Month: March 2018

Favorite App…

Favorite App…

Sebagai seseorang yang ga pake sosial media… cuman make Line demi komunikasi dan merasa tidak butuh fitur timeline, ataupun stiker variatif (kecuali kalau liat temenku ngirim stiker Chibi Marvel Character, itu beda…), ga main game di HP, dan ga nonton Youtube… terkadang aku sering ditanyakan status millennialism (yes, this word is made up) sama teman-temanku.

Jadi ini sebenernya semacam note bahwa aku masih sangat reliant dan tidak jauh dari aplikasi, jadi… ya begitulah. So, artikel ini berfungsi untuk menuangkan pikiranku pada aplikasi yang paling sering kupakai.

Hope you’ll like it.

WhatsApp?

Jadi sebenernya ini aplikasi yang terbilang sering kupakai, dan ini juga sebuah app terdekat yang aku punya dengan IG, (yes, WA Status, that’s it) dan sebenernya ini kepake juga buat market stuff, dan lain-lain. Apart from that, aplikasi ini seperti SMS, tapi lebih murah, dan metode lain untuk melakukan videocall.

Selain itu ini membuat komunikasi dengan orang-orang menjadi cukup dengan beberapa keystroke. Aplikasi ini, seperti aplikasi messenger pada umumnya memperkecil jarak… also, ini juga kepake buat koordinasi, dan lain-lain kalau mau ngatur meeting point. Selain itu gak kaya Line, WhatsApp juga kepake buat notepad copas-an dengan sebuah grup yang kusebut Data Transfer. Kenapa di WA bisa melakukan hal kaya gitu? Well simpel sih, bikin aja grup dan invite family member terus diusir dan gunakan grup itu sendiri.

Apakah ini aplikasi favoritku tapi? Well no, although it’s a very must-have app, one that goes to the level of… “I can’t really imagine my life without it”, ini ga bisa dibilang favorite karena… yeah it’s an app someone basically must own… tapi ini juga fiturnya bisa digantikan aplikasi lain. Jadi… moving on…

WordPress?

Yeah aku make wordpress di HP. Itu penting sih, ada saat dimana ga bisa nulis dengan laptop, atau kepengen nulis di mobil, maka wordpress mobile adalah opsi yang rada kepake..

WordPress juga kepake banget buat temporal drafting ketika diluar rumah, hanya untuk menyiapkan beberapa tulisan untuk dipenuhi ketika sudah sampai rumah. Tapi…

Well, meski penting, wordpress juga ga bisa disebut aplikasi yang aku suka, karena sekali lagi, dia ada disini karena aku benar-benar membutuhkannya, tapi dia bersifat lebih sebagai… must, bukan karena want. Jadi ini sudah rendah kemungkinannya bisa menjadi suatu hal yang favorit. Karena ini bukan keinginan, tetapi keharusan.

Gojek?

AHHH Gojek apakah dirimu memenangkan tempat di hatiku sebagai app favorite? Sebelum di unveil, aku mau kupas dikit, dan ngasih pesan sponsor ke beberapa artikel lain yang gojek related di website ini…

Ada curhatan mengenai fakta bahwa kadang Gojek bisa jadi kurang reliable, dan juga ada curhatan dari driver gojeknya mengenai orang nyebelin… Tapi sebenernya… Yes, this app is one I really use a lot. Tapi sekali lagi apakah ini aplikasi favoritku?

Coba pikir ya… Tanpa Gojek, transport akan jauh lebih rese, lama atau mahal. Kaya taksi yang rese dan mahal, angkot yang rese dan lama, atau dianter yang rese, dan tidak efisien. Sebenernya sih Gojek sendiri sudah mempermudah hidupku sejak dia pertama keluar…

Aku udah make Gojek sejak dia masih punya lebih dikit dari 10 ribu downloads. Dan Uber bener-bener baru masuk Indonesia. Course, Gojek menjadi temanku sejak aku masih sekolah formal, karena dia nganter jemput aku meski kadang suka ga ontime. Selain itu, dia juga sangat berguna sesudah banyak ekspansi bisnis yang Gojek buat…

Pulang camping, tepar dan laper? Go-Food aja! Males beres-beres, kamar berantakan? Pesen Go Clean! Cape, punggung sakit, pengen diurut? Ada Go-Massage! Pengen ke bioskop dan ngecek jadwal tanpa harus make web CGV yang jelek? Ada Go-Tix! Mau pindahan? Go-Box!

Yeah one app basically solves every single problem… tapi sekali lagi, apakah ini aplikasi favoritku? Sebenernya aku rada bingung… pas awalnya aku nulis ini aku kepikiran, pasti, oh pasti Gojek yang menang, tapi aku kepikiran hal lain… apa ya, yang kira-kira bisa take the cake selain Gojek? Dengan seringnya aku nulis Gojek disini aku yakin sih, pasti pada akhirnya… orang-orang bisa memprediksi bakalan dimenangin Gojek… tapi…

Ada contender lain, karena sekali lagi, Gojek semacam… must have, bukan want. Untungnya buat orang kaya aku (yang kemungkinan ga bakalan bisa naik motor atau mobil) sangat-sangat kepake. Tapi aplikasi contender ini bersifat want bukan must have, jadi… ya baca aja deh.

Music?

Ini aplikasi underrated buat beberapa orang… karena sebenernya ga semua orang make aplikasi musik yang default. Honestly dikit banget orang yang bother buat download (okay, kadang download secara “illegal”, tapi tetep, download) musik, karena adanya Spotify, dan Joox yang ga makan data di HP, tapi makan kuota, yang sebenernya ga ngaruh kalau ada Wi-fi, tapi ya begitulah.

Musik ini sebenernya udah sering banget jadi temenku ngerjain chore atau nulis, dan sebenernya aplikasi yang kupake itu aplikasi musik yang default dan dari sananya udah ada lho… Tetep sih, life without music is bland. Jadi dengan “warna” dan sensasi yang bisa didengerin melalui kuping-ku itu, indah, dan memberi kesenangan terbaru ke hari-hariku.

Alhasil, hidup terasa lebih colorful gara-gara adanya musik ini. Yeah mungkin terdengar lebay, tapi intinya sih begitu.

Mungkin kalau iseng dan gabut ga ada ide tulisan aku mau nulis jenis lagu yang aku dengerin, tapi sebenernya, aplikasi yang bersifat want, dan bukan must have ini pada akhirnya akan menjadi aplikasi must have jika si penikmat (dalam tingkat ekstrim, pencandu) musik memang merasa butuh musik seperti seorang anak membutuhkan ibu-nya.

In Conclusion

DUA KONKLUSI PENTING!

Satu… Iya aku “butuh” dan pada akhirnya rely ke HP sama seperti millennial pada umumnya, namun aku tidak overuse dan procrastinate kegunaannya. Dengan exception kalau ada temen ngajak ngobrol… itu, kadang jadi lupa waktu 🙁 .

Jadi iya, aku millennial dan kadang emang aneh kalau aku ga make sosmed, atau ga nonton youtube, tapi ya begitulah, rada susah convince orang hal-hal umum itu.

Kedua adalah… Tidak harus selalu ada pemenang :V aku tahu sih, ini sebuah kesimpulan yang rada lame… tapi aku ga mau dan ga bakalan memberikan pemenang, karena sejujurnya kalau aku disuruh memilih hidup tanpa Gojek atau musik, aku bener-bener bingung. Tapi dalam dunia yang tidak ideal ini… tidak selalu ada pemenang dan tidak harus ada yang terbaik. Semua orang itu spesial, dan mencolok di dunia ini…

Semoga kesimpulan itu bisa memberikan makna baru pada hidupmu, berhentilah membanding-bandingkan orang, karena semua hal ada gunanya kok. Yang salah adalah jika kita overuse kegunaan itu…

Until tomorrow!

The Greatest Showman Soundtracks Part 2

The Greatest Showman Soundtracks Part 2

And here we are…

The Greatest Showman, mungkin musical pertama yang aku tonton, dan cukup sedih, tapi ending-nya juga happy, dan ya… it’s a good movie. Tapi kalau dikupas lagu-nya, or… jangan ngupas sih, Genius Lyrics adalah opsi yang lebih baik untuk pengupasan lirik… aku disini mau membahas lagu-nya 1 by 1, dan ini adalah part 2, membahas 2 lagu yang keluar dari film-nya sesudah 3 lagu pertama.

So… kalau belum baca part 1-nya klik di sini…

Moving on to song number 4 to 5. Excluding beberapa lagu yang Reprise, karena lagu itu hanya sebuah pengulangan dari scene utama lagu itu dari si film ini. Jadi, untuk sekarang ada 2 lagu lagi yang dibahas 🙂

Kenapa artikel pertama 3, dan ini 2? Karena lagu disini sedikit lebih nikmat untuk dibahas dengan dalam. So, have fun reading!

Akan lebih nikmat juga sambil denger lagunya baca artikel ini ya…

The Other Side

Pernah kepikiran bahwa… kamu nggak kepikiran apa-apa? No?

Well, lagu ini cukup jelas mempresent risk taking, dan seperti beberapa lagu di film ini, dia semacam reverse meaning lagu-nya di verse kedua, dan chorus kedua, karena pembawaan dua perspektif tokoh yang berbeda juga.

Jadi, lagu ini bermula di scene dimana PT dan seorang playwright, yang tenar dan kece di kota-nya, Phillip Carlyle (Zac Efron) ketemuan di bar, dan mereka ngobrol, dan… yeah well they did drink some alcohol.

PT’s Verse

Sekitar 2 gelas whiskey kemudian, PT mulai nyanyi lagu ini, dan dari titik ini, dia berusaha convince lawan bicaranya untuk ikut jadi ringmaster di circus miliknya. Nah, kurang lebih, ketika liriknya di ucapkan… Dia mulai nawarin, dan menjelaskan sambil cerita bahwa, “masbro,  kamu teh hidup sih seneng, tapi kamu kurang berani ngambil resiko, itu ga seru.” Of course, dengan nyanyian dan… gaya yang keren.

Ini makin di tunjukkan dengan lirik-lirik seperti… “Live a little crazy”, Hugh Jackman memainkan role ini dengan cukup… gila dan, keren sih, tapi banyak perkataan yang aku denger darinya yang membuatku makin yakin Phineas Taylor Barnum ini memang kurang waras. In a sense, ini bagus, karena kita akan maju ke kata-kata berikutnya.

Oh, dan menurut Genius dan beberapa source lainnya… PT Barnum percaya bahwa conforming onto society is a very stupid thing, dan kita harusnya stand out sedikit. Mirip seperti Wonder, tapi jika Wonder membahas seseorang yang memang bakalan stand out, kalau PT ini percaya bahwa semua orang harus stand out.

On topic of the song…

Chorus pertamanya cukup catchy… “Don’t you wanna get away, from the same old, part you gotta play”

Itu sebuah pertanyaan, yang langsung diberikan solusi di chorus utama, dan juga di ceritanya…

Philip Carlyle ini terbilang rada bosen dengan kerjaan dia setiap hari yaitu ngeproduce play yang sama berkali-kali, dan hasilnya gitu-gitu aja, ga ada stand out-nya sama sekali. Jadi, dengan ikut circus-nya PT, dia bisa keluar dari comfort zone-nya dia.

That’s what “The Other Side” means… Zona tidak nyaman, tetapi masih fun. Selain itu, PT masih kekeuh bahwa hidup yang conforming itu penjara, dan dia semacam menantang (throgh lyrics) Philip untuk segera keluar dari zona nyaman dan segera mencari suatu sensasi yang lebih bebas dan tidak peduli pada apa kata orang lain, menjadi lebih bebas.

However Mr. Barnum’s first attempts kinda… failed

Philip’s Verse

Philip masih yakin dia seneng dengan kehidupannya sekarang dan membalas komentar-komentar dari PT dengan sesuatu yang sedikit, smug, dan sedikit rude.

Jadi dia reverse verse (yes it’s a pun) pertama dengan memulai line-nya dia dengan bilang… NO! Aku suka zona nyamanku dimana aku kaya, keren, dan tenar. Well beberapa line pertama-nya cukup bisa dimengerti tapi, andaikan reader bingung, line-line pertama adalah literal denial yang sedikit panjang. Disambung dengan line yang bilang bahwa dia nyaman, dan dia ga mau ambil resiko.

Terus Philip bilang sebenernya show yang kamu buat itu keren kok, tapi, itu… not for me.

Now comes the rude part… “But I live among the swells, and we don’t pick up peanut shells”. Yeah it’s kind of harsh. Jadi, di zaman Greatest Showman ini, Swells berarti orang kaya dan disaat yang sama, orang kelas atas, mungkin kalau di zaman sekarang selebgram-nya kali… Philip Carlyle termasuk dari salah satu Swells ini.

Sebaliknya, Peanut Shells mean… orang yang kelas bawah, dan kalau di theater biasanya mereka dikasih kacang sebagai cemilan, dan disuruh duduk di ruangan tanpa AC (wait different era), dan ya… biasanya tiketnya yang paling murah sih.

Sambil nyanyi baris ini, Philip Carlyle ngambil kacang dan melemparnya ke muka PT (as a rude joke of course), being a… relatively crazy person, PT Barnum smiled through it. Untuk memperparah rudenessnya ada line berikutnya, I’ll have to leave that up to you… Ini bilang bahwa isi circus-nya PT cuman orang kelas bawah doang, karena sepertinya Philip berusaha bilang bahwa… “Yah, aku ga mau ngurusin orang yang kamu urusin, lu aja yang ngurusin orang rendahan kaya gitu.”

Terus kita masuk ke chorus yang dinyanyikan dengan menari di meja bar. . . Which is kinda flashy actually.

Chorusnya mengubah line Cage yang tadi PT Barnum bilang, dan dia bilang, “penjara? really? ini bukan penjara, wong nyaman gini,,,kenapa aku harus kabur?”. This part of the song is actually good, tapi dia cuman mereverse chorus dan menyanyikannya dengan tune cocky, so no need to break it down.

Bridge… and Charm-y Stuff

Pas Philip turun dari meja bar-nya, dia semacam ditantang lagi sama PT dengan bilang begini… “Now is this really how you like to spend  your days? Whiskey and misery, and parties and plays”. Mungkin dia ngeh bahwa kalau ga dibuat kesel dan ditantang ga bakalan ada respons. Tapi, being a swell, Philip Carlyle masih cocky dan malah nantang bilang bahwa… “kalau aku bareng sama lu, gua dibicarain sekota, w gak mau ah, dah seneng hidup gini”. Course with poetic and music-y sounds. Nyanyiannya songong dan ditambah ketawa ketika menyebut kata “clown”.

Well, the song eventually concludes ketika PT bilang bahwa, kamu harus punya freedom untuk bermimpi, dan Philip yang sudah di dekat pintu, mikir lagi dan akhirnya tawar menawar persentase show… berapa persen show yang dia bakalan dapetin? Yah terus ini cuman tarik ulur karena Philip Carlyle udah lost di kata-kata… “freedom to dream”.

Lagu ini ditutup dengan chorus yang dinyanyikan berdua, dan kurang lebih liriknya sudah positif tanpa rejection, karena mereka akhirnya sudah setuju dengan pemikiran keduanya. The chorus is sung in the circus, during a show, tapi di backstage, sambil naik tangga.

Nah, sekarang kurang lebih itulah power-nya charisma. Mengingat seberapa cocky dan songong si Philip Carlyle ini saat lagu ini bermula, sesudah dinyanyikan dan di… persuade, akhirnya dia kemakan sama charisma dan kata-katanya PT Barnum.

Fun Fact: Philip Carlyle adalah karakter fiksi… Not to burst your bubble but The Greatest Showman juga banyak adegan dan cerita fiktif-nya.

Never Enough

Review/mengupas arti dan act lagu ini ga bakalan terlalu dalem… not like 1000 words (like The Other Side right there…)

Lagu ini dinyanyikan Loren Allred, dan di filmnya dinyanyikan Jenny Lind, karakter asli, also known as the Swedish Nightingale, yang merupakan opera singer. Karakter Jenny Lind ini dimainkan Rebecca Ferguson, yang di “dub” dan menggunakan audio lagu pre recorded yang dinyanyikan Loren Allred di film-nya.

Lagu ini dinyanyikan di depan sebuah stage, dan di sebuah teater, jadi lagu ini juga tidak masuk konteks apa-apa ke cerita, karena digunakan sebagai show dalam sebuah film yang menceritakan tentang… show… Jadi konteks ke film-nya kurang ada hubungannya, tapi, ada Genius untuk membantu mencari konten.

Lagu ini merupakan konteks indirect untuk tokoh-tokoh yang mendengarkan lagu ini. Although they are famous now, nothing is gonna be enough for them.

Nah banyak pesan “sponsor” di film ini. Tidak semua line dari lagu ini apply ke semua karakter di film ini, tapi hanya sebagian saja. Well, anyways, lagu ini sedikit repetitif, dan banyak dramatisir yang lack… meaning.

Verse

Pertama-tama lagu ini dibuka dengan verse, sebelum repetisi chorus, dan kurang lebih aku ga terlalu ngerti, tetapi dari membaca liriknya secara keseluruhan, mungkin ini berarti… Biting back opinions, and not being theirselves. Kurang lebih menahan diri untuk protes atau memberi opini, dan berusaha menjadi orang lain kayanya sih.

Verse ini ditutup dengan without you. Stop right there, without you ini dinyanyikan dengan pelan dan sangat lembut. Well, ini memberi konteks extra, tapi coba kita masuk ke chorus utama-nya.

Chorus

“All the shine of a thousand spotlights. All the stars we steal from the nightsky.”

Spotlights disini berarti ketenaran (or… yeah kurang kata-kata poetic, sorry), dan kurang lebih ini berarti mau seberapa famous seseorang, atau… stars disini adalah metaphor. Metaphor for what? Ada banyak bintang di langit, dan juga banyak orang di dunia ini. Stars berarti orang yang tahu akan namanya. Also on the subject of fame.

Nah kita masuk ke… Will never be enough… Course, ini berarti tanpa companionship, mau seberapa terkenal seseorang, itu takkan cukup. Or kalau kita ignore Without You di ujung kalimat ini juga bisa berarti bahwa ada orang yang emang ga bakal merasa puas mau seberapa terkenal dirinya.

“Towers of gold are still too little. These hands could hold the world”

Nah disini Towers of gold berarti kekayaan, karena… yeah gold is expensive, and towers are expensive… bahkan jika tidak terbuat dari emas. Jadi ya… kebayang lah ya. Hands that hold the world. Well ini berarti orang yang… powerful, dan bisa mengubah dunia dengan sebuah perintah, atau apapun really.

Jadi yaaaa… begitulah. Intinya, ada orang yang merasa tidak pernah puas sanking ambisiusnya, dan juga ada orang yang tidak akan puas karena dia kesepian. Sebenernya kasian banget sih lagu ini. It shows how uncontent people can be.

Lagu ini eventually merepeat chorus sampai lagu-nya beres. It’s a nice song to hear, but it does… kind of gets boring. Dari banyaknya lagu di film ini, ini yang paling jarang kudengar karena sedikit terlalu banyak repetisi. Doesn’t mean it’s not good… lagunya sih enak tapi ya gitulah.

 

Short Announcement, Plus Apology

Short Announcement, Plus Apology

Maaf, dan maaf, dan maaf…

Aku kepengen banget One Day One Post, namun ada sesuatu yang terjadi yang membuatku gagal posting selama dua hari kebelakang. Pretty much ada TCP error, dan sepertinya itu adalah masalah internal di laptopku, yang membuatnya gagal terhubung dengan wordpress.

Sesudah mereset DNS dan melakukan hal-hal yang pada umumnya orang-orang meminta tolong bantuan temannya yang tahu programming (or sometimes, anaknya *cough* Bubi *cough*) aku sukses mereset WordPress…

Ini hanya announcement pendek, dan ini juga berarti hutangku dengan website ini melonjak by dua… dan jadinya aku perlu bayar lagi hutangnya dengan… beberapa post. Ini cuman announcement saja, dan sepertinya tidak akan dihitung sebagai post.

Besides, I do need to pay some of my responsibilities… jadi, ya, masih kurang 4 post in total… dan… yah begitulah.

This announcement isn’t really important actually… hanya sebuah… curhat pendek.

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Jadi sekarang beginilah caranya. Yes I really don’t have any other comments. Hanya begitulah… Aku bener-bener bakalan ngebahas poinnya satu-satu. Dengan pengecualian perspektif yang kelima karena perspektif kelima itu… sensitif dan aku tidak ingin offend siapa-siapa. Jadi langsung aja masuk ke artikelnya kali ya…

Oh btw, baca dulu artikel ini, dan artikel ini untuk perspektif materialis. Kedua artikel itu penting (especially yang pertama), dan emang kepake untuk referensi membaca di artikel ini.

Yes ini sebuah kuliah dijadiin sebuah serial artikel, mostly because memang bisa dikupas sedalam ini, dan minggu ini ga ada kuliah di Unpar karena tanggal merah… 🙁

So, sesudah 2 paragraf (3 sama ini), baru kita masuk ke artikelnya.

Definition

Perspektif Vitalis… No, it’s not the name of a soap brand, it’s not.

Pertanyaan yang ditanyakan adalah energi apa yang menggerakkan alam semesta ini?

Perspektif vitalis ini terbilang relatif baru, in the sense that… ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, tetapi tidak dalam konteks Interconnectedness dan Universal Mind. Di zaman dahulu jawaban energi yang menggerakan alam semesta ini ada di dewa-dewa, dan sampai sekarang pun tuhan (di agama apapun) masih cukup mencakup perspektif vitalis ini.

Tetapi, dalam aspek Universal Mind, Vitalis ini lebih masuk ke… energi, bukan pikiran itu sendiri. Alhasil aku tidak bisa memasukkan tuhan, ataupun dewa dalam perspektif Vitalis.

Nevertheless ini dah rada off topic, jadi kembali ke definisi yang ingin aku ambil…

Untuk perspektif vitalis di artikel ini, harap catat (don’t… it’s a metaphor) bahwa sebuah pikiran bukanlah energi (unlike the materialist perspective), dan energi ini lebih ke… suatu hal yang menjalankan pikirannya, bukan pikirannya sendiri… (bingung kan?)

Jadi jika alam semesta ini adalah sebuah mobil, para materialis akan membahas mobil itu sendiri secara detail, sedangkan para vitalis akan lebih fokus pada cara menjalankan si mobil itu, dan bensinnya si mobil.

So, I hope that analogy kinda clears your mind a bit, dan semoga ga terlalu pusing… karena ya… sekarang kita akan maju…

Also, andaikan belum cukup jelas atau masih bingung, ini lebih (heck, jauh lebih) scientific dari para materialis, karena seperti disebut di awal, memang beda era, dan era para vitalis ini sudah mencapai titik dimana… sains sudah develop, dan kita sudah tidak stuck ke bahan-bahan di alam semesta, melainkan sudah ke… apa yang membuat alam semesta berjalan.

Micro Biology

Spoiler Alert: kalau ga kedengeran kaya mikro biologi, atau biologi pada umumnya, sama kok aku juga berpikir begitu.

Yes, what you’re going to be reading is a work from Rupert Sheldrake, and to this day he’s still very relevant with microbiology.

Nah, jadi… Rupert Sheldrake menyebut bahwa energi, like… every single pieces of energy, be it, potential, actual, solid, theoretical, dan istilah lain-lain yang belum disebut, atau ada istilah yang ga bener tapi kesebut… intinya, semua energi tanpa didescribe asalnya, jumlahnya,  atau jenisnya sudah mulai menggerakkan alam semesta ini.

That is a hidden message for, don’t stereotype, really, don’t. It’s pointless, everyone’s got a use in life anyways. (ini bercanda yang serius btw)

Nah energi ini tidak punya bentuk yang solid, dia terlalu… shattered untuk memiliki bentuk. Dia terpecah-pecah, dan, pada dasarnya mirip ruh yang scientific. Dia butuh vessel untuk bisa bekerja. Mirip seperti bensin dalam mobil tadi, si bensin tidak punya real value sampai dia dimasukkan dalam mobil dan menggerakkan si mobil.

Nah, tapi, ada hal yang belum dibahas disini. Untuk si bensin bisa menggerakkan si mobil… mobilnya ga bakalan bisa gerak, kalau si mobil ini hanyalah frame dengan 4 roda. Nope, kita butuh mesin untuk memproses si minyak.

So far aku udah nemuin analogi buat alam semesta kita, which is a car, yang bergerak dan bekerja dengan bantuan energi, which dijadikan analogi bensin… tapi, umm… ada yang kurang, mana si mesin yang memproses si bensin? Di alam semesta kita, ada yang namanya medan, dan di medan ini, baru jenis energi mulai berpengaruh, karena si energi sudah tidak lagi abstrak.

Untuk menggunakan analogi lagi… ada beberapa jenis mobil, misalnya mobil diesel hanya bisa dikasih minum bensin diesel, supercar akan lebih efisien jika diberikan bensin yang… proper, dan di enhance dengan banyaknya chemical, city car cukup diberikan bensin model pertalite, pertamax tanpa harus terlalu peduli dengan jenis bensin-nya. Masih ada mobil yang hanya bisa mengonsumsi solar, dan ya… so on.

Medan ini, atau mesin di alam semesta kita ini, memilah energi yang diterima dan hanya bisa diberi energi yang “cocok” dengan medannya. Pada titik inilah aku bingung pas kuliah… “What on earth does this have to do with Microbiology?”.

Well, jadi to start it off, ada banyak medan, seperti, Medan Kuantum untuk Quantum Energy (branch: Physics), Medan Gravitasi, yang memanage daya tarik antar dua hal (Branch: Physics), medan elektromagnetik, yang memanage magnetism, also saying that opposites attract… 😉 (Branch, sekali lagi, PHYSICS), dan… yang terakhir… Morphic Resonance.

Apa itu Morphic Resonance? HAHAHA… Prepare to encounter confusion. Pada titik ini aku yakin ini sesuatu yang bilang… physics, more physics I guess… Tapi ternyata Morphic Resonance adalah gelombang supernatural (yes, Mr. Sheldrake wrote SUPERNATURAL in his work, aku ga ngarang) yang mengendalikan, atau mengatasi pikiran antar makhluk yang terpisah, dan menghubungkannya. Morphic resonance juga merupakan plane/medan untuk kesamaan pattern dalam tingkah laku hewan-hewan.

Jadi di titik inilah aku sedikit yakin ini ada hubungannya dengan Neurobiology, which does work pretty well with Microbiology, and has some relevance with it. Tapi kalau merhatiin ulang di paragraf atas, reader bakalan ngeh. Ngeh bahwa dari gaya wording dan tulisanku, berdasarkan Morphic Resonance, sebuah pikiran adalah energi. Dan dalam konteks interconnectedness dan Universal Mind, jika sebuah pikiran adalah energi yang harus masuk dalam suatu vessel, in this case, the highest mind, or our mind…

I’ll let you conclude, selamat berpikir! (P.S. Ini berarti perspektif vitalistik mungkin saja benar dengan bilang bahwa yang menggerakkan alam semesta ini memang sebuah energi, tetapi hanya dalam… format berbeda)

Also, no there really wasn’t much on microbiology and how it correlates here.

Quantum Physics

Cung kalau udah nonton Ant-Man! Sure, if you’re a geek you’ve watched that, aku yakin banyak yang nonton juga sih. Cung kalau belajar fisika kuantum beres nonton Ant-Man! No? Nobody? What? That was the most interesting part! (FYI kalau ada tolong bilang di comments section aja…)

Quantum physics adalah fisika yang membahas mekanisme dan hukum fisika dalam dunia subatomic. Dimana hukum fisika tidak lagi apply. Tapi disini, aku belum cukup banyak baca dan belum bisa conclude apakah ada hubungan dari dunia kuantum dan dunia nyata.

 According to quantum physics… Segala hal terjadi dan diciptakan oleh fluktuasi gelombang. Gelombang ini tidak pernah berhenti bergerak, dan dia adalah bagian dari energy field yang semuanya adalah bagian dari hal lain, dan juga merupakan satu kesatuan.

(OKAY hang on, aku tahu pasti pada pusing)

Singkat cerita, energi adalah gelombang, gelombang ini bergerak terus menciptakan dan merubah hal-hal. Gelombang dan dunia ini adalah satu kesatuan dan juga merupakan spare parts, dan komponen dari mesin yang lebih besar. Hopefully ini lebih jelas.

Semua hal disini terbilang kompleks, dan kita akan sering menemukan paradoks, dimana bahkan di tempat hampa tetap ada gelombang, dan suatu hal tidak akan pernah menjadi sebuah jawaban sampai dia kembali ke dunia nyata.

Semua hal, terjadi karena gelombang, gelombang inilah energi. Gelombang ini juga terjadi kalau ada gerakan, baik itu secara fisik (alias tubuh kita bergerak), atau itu sebuah ide baru yang baru kepikiran.

Karena sekarang topiknya gelombang, anggap saja sebuah pikiran adalah pemancar radio yang juga bisa menangkap gelombang lain, sekaligus mengirimkan gelombangnya sendiri. This exchange of ideas is the aspect of interconnectedness according to Quantum Physics.

Harusnya sih ga terlalu memusingkan aspek interconnectedness-nya. Of course yang bikin pusing tuh bukan interconnectedness-nya tapi quantum physics in general. Jadi akan sedikit kujelasin dulu deh.

Dalam fisika kuantum, sebuah vacuum bukan sebenarnya ruang hampa. Vacuum itu hanyalah suatu tempat yang sedang dijelajahi dan “dibentuk” oleh gelombang. Sesudah dibentuk oleh gelombang, hasilnya akan muncul, dan vacuum ini bukanlah sebuah ruang hampa lagi, karena bukan hanya sebuah probabilitas yang masih belum diexplore, melainkan sudah menjadi sesuatu yang solid.

Ini di apply oleh Erwin Schrodinger yang membuat eksperimen Schrodinger’s Cat… Di eksperimen itu, ada sebuah kucing yang diekspos dalam radiasi dan/atau gas beracun (ada beberapa versi), dan dimasukkan sebuah kotak. Dalam kotak itu kita tidak tahu apakah si kucing itu mati atau hidup. Jadi berdasarkan fisika kuantum… kucing itu not dead, neither it is alive. Itu paradoks sih.

Hasil dari Schrodinger’s cat tidak akan pernah terungkap sampai kita membuka kotak itu, karena begitu kita membuka kotak itu… fisika quantum tidak lagi apply dan kita kembali ke realm nyata. Ketika kucing itu masih dalam kotak tetapi, ruang hampa itu sedang ditentukan hasilnya melewati gelombang radio yang tadi dibahas.

Yes ini ga terlalu jelas interconnectedness-nya apa, tapi ini bukan cuma ngebahas interconnectedness, but also apparently physics in general

Kesimpulan dari bagian ini adalah… explore future possibilities! Sesuatu yang hampa hanyalah sesuatu yang belum ditemukan ataupun dicoba. (or, kalau mau yang mode easy-nya… You’ll never know till you try). Let’s not be stuck in a quantum stasis.

In Conclusion

Terkadang ada saat dimana kita sebagai manusia tidak punya energi atau merasa bahwa dirinya sedang tidak punya energi untuk menggerakkan dirinya sendiri. Fase ini disebut gabut… (atau mager, atau singkatan lain yang entah aku ga inget)

Tetapi sebenarnya, energi sudah menggerakkan dan membuat kita berpikir, dan energi ini sudah ada dari sana-nya!

It’s only up to us to grasp it, and hold the world and image that we seek.

AHA! Okay jadi ini half a conclusion, dan sebenernya masih bisa ditingkatkan lagi, tapi masih ada 2 perspektif lain untuk dibahas, jadi bersabar yaaa…

Until next time.

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Sesudah ending yang menggantung, seperti semua film Marvel… akan kubahas interconnectedness, dalam suatu image yang definitely… more detailed, dan membahas salah satu dari setiap perspektif yang ada, which is the Materialistic one.

Oh also, the introduction and stuff can be found within this article. Ini semacam sekuel ke short film dengan ending menggantung. But unlike most movies that end in a cliffhanger, jeda antar artikel hanya 6 jam! Tapi please baca dulu artikel pendek itu yaaaa, ada hal yang tidak akan diulangi.

Sebentar dulu, ada artikel lain yang penting dan defining this article in general… Definisi Interconnectedness dapat ditemukan di sini.

Definition

Kalau ada seseorang yang mendengar istilah materialistik, terkadang yang terkesan adalah orang itu ingin mencari worldly pleasure, usually in the form of… money, yang terkadang di reference sebagai materi, hence disebut materialis. Tapi sebenernya perspektif materialistik ini gak ada hubungannya dengan materi dalam konteks ekonomi.

Konteks Materi disini adalah, “matter”. What’s the matter with matter you ask? (Baa Dum Tss) Yah udah dijelasin di “preview” artikel ini sebleumnya sih.

Para materialis ini percaya interconnectedness terjadi karena alam semesta tercipta oleh suatu single substance. And that is kind of why this might seem old. Tapi udah kujelasin tadi, jadi sekarang kita langsung masuk ke bagian detailnya aja deh.

Greek Philosophy

Alam semesta ini memiliki banyak unsur. Tetapi semuanya masih merupakan bagian dari unsur utama. Nah, banyak sekali filsuf Yunani besar yang menyebut APA materi utama-nya ini.

Ada Thales yang bilang bahwa air adalah unsur utama, dan segala sesuatu di alam semesta ini merupakan air, at least sebagian-nya saja. Thales sedikit kurang tepat, karena belum ada konsep cahaya dan gelombang di zamannya, tetapi pemikiran ini cukup spot on.

Sampai sekarang pemikiran ini masih “terpakai” karena jika NASA (or any space organization in general) ingin mencari kehidupan, hal pertama yang berusaha dianalisis dari sebuah planet/satelit adalah keberadaannya air. Di zamannya, Thales sudah sangat maju dengan klaim simpel bahwa Air adalah sumber segalanya.

Tapi umm… Gimana air ini bisa play a part in the big machine of interconnectedness? Thales ga bahas itu explicitly, tapi aku yakin (just an opinion) kemungkinan Thales atau muridnya berasumsi mengenai endless cycle of water, also known as the water cycle… (Hurrah everybody, it’s Captain Obvious!)

Terus ada suatu teori menurut Democritus yang sampai sekarang masih cukup familier di Fisika. Meski Democritus (in a sense) dibuktikan kurang tepat, Democritus sendiri percaya bahwa atom adalah substansi utama, dan paling mendasar diantara molekul dan partikel lainnya. Now we know this is wrong. Ada quantum realm, dan electron dan… yah itu fisika. Bukan bahasanku hari ini.

Tapi tidak seperti banyak filsuf Yunani lainnya, Democritus yakin bahwa yang kita lihat dan rasakan itu bukan bentuk yang mendasar, dan segalanya bisa dipecahkan hingga lebih kecil lagi. Dia menyebut hal kecil ini sebagai atom, berdasarkan kata Atomos, yang berarti… Indivisible. (Or tidak bisa dibuat lebih kecil lagi). Aku ga yakin tapi kayanya ini ga diajarin di kelas Fisika di SMP… SO YEAY! More fun facts.

Koneksi Atom dengan interconnectedness itu apa? Well… let me tell you something. I actually have no clue. TAPI……. Inget, ini masih filsafat yang sangat “mendasar” karena dia memang masih di zaman orang Yunani, jadi teori Atom ini akan memberi kontribusi untuk perspektif lainnya.

CATATAN: Andaikan ada definisi atau miskonsepsi di bagian ini dan kurangnya benang merah dari tulisan yang ini dan yang sebelumnya mohon maaf. Catatan ini untuk memperjelas. Interconnectedness itu bisa berada dalam level Universal Mind yang menjalankan alam semesta ini, dan Interconnectedness juga bisa berada di level tengah, yaitu adanya persamaan pemikiran antar beberapa orang. Jika ada perspektif dan/atau opini yang masih rada gaje, tolong berikan comment, aku akan menjelaskan dengan senang hati.

Modern Science

Dunia ini adalah mesin, bekerja secara mekanis, kaya… well sebuah jam. Layaknya mesin dan alat, dunia ini bisa dianalisis melalui Sains.

But hang on, kenapa ini ada hubungannya dengan Interconnectedness?

Sebentar dulu ya… We’ll get there.

Say hello to the sun. No, not your son. That big thing in the sky you look away from because its so bright. Iya, itu, yang ada department store yang pake namanya dia.

Since 4.6 billion years ago… Matahari sudah menjadi titik tengah Solar System kita. Ada 8 planet yang mengitari-nya selama 4.6 milyar tahun itu. 9 kalau Pluto dihitung, tapi Pluto itu bukan Planet, jadi karena aku specifically nyebut Planet, sayangnya menurut astronomi modern, cycle Pluto sebagai planet putus… On topic.

Anyways, jadi selama 4.6 milyar tahun itu… Matahari mengalami hal yang sama berkali-kali, ia menikmati revolusi Merkurius setiap 1/12 (or satu bulan) dari Revolusi Bumi, dan Neptunus belum pernah gerak sama sekali. Setiap hari, hal yang sama diulang, diulang, diulang.

Nah! Ini merupakan suatu hal yang disebut predictable itu. Jadi, seperti yang aku bilang, semuanya bisa dianalisis karena pada dasarnya, hal yang sama berulang tiap hari, minggu, tahun, sewindu, atau seabadnya.

Ini alasan kenapa jauh sebelum zamannya Newton… Kejadian di alam yang pasti disebut sebagai Hukum. Sesuatu yang tidak bisa dilanggar. jadi, menurut sains modern, interconnectedness ini lebih masuk ke definisi yang menjalankan alam semesta ini, bukan hubungan antar pikiran.

Hukum yang kita temukan (Bukan ciptakan, Newton TIDAK menciptakan gravitasi, dia menemukan keberadaannya.) hanya merupakan penemuan dari endless cycle yang sudah jalan jauh sebelum kehidupan kita.

Jadi materi apa yang menciptakan alam semesta ini memang menentukan apa yang menjalankan alam semesta ini, karena… hukum yang kujelaskan di atas memang terkadang tidak bisa dilawan.

Anomaly?

Off topic dulu dikit…

Apakah kita, sebagai makhluk yang pintar, dan mungkin mendapatkan ilham terbanyak dari Universal Mind, sudah menjadi anomali? Nah… coba pikirin deh.

Semua makhluk hidup mengikuti cycle yang mirip, dan mengikuti hukum yang diberikan alam (salah satu otoritas tertinggi di semesta ini) padanya. Sedangkan kita masih berusaha untuk mencari jalan lain dengan hukum antar manusia, yang hanya otoritas sementara di dunia ini, dan jelas bukan yang paling tinggi di dunia filosofi.

Coba pikirin yaaaa… Just you know a bunch of short thoughts.

Contemporary Materialisticism

(Materialisticism is TOTALLY a word)

No it’s not… kata benerannya Materialism. Yes, ada perubahan kata dan etimologi mendasar.

Dalam materialisme kontemporer, sesuatu yang disebut fisikalisme (which in a sense might sound VERY unscientific, atau ironically, very scientific. Fisikalisme ini percaya bahwa segala sesuatu merupakan konstruksi dari sebuah materi. (Yang mengabaikan teori gelombang dan partikel itu, atau heck cahaya.) Konstruksi materi ini bisa dipahami melalui… fisika (since, it’s physics afterall), neuroscience (karena ide merupakan hasil electronic waves di otak), evolution theory (since… akan dibahas lusa, di perspektif para evolusionis), dan apparently… computer science (like Neuroscience, but not a brain).

Kalau membaca dengan detail  kayanya rada jelas bahwa ini sangat tidak scientific, dan in a sense ambiguous, karena… ada betulnya dan juga terkadang sangat scientific… It’s very confusing. . .

Ga usah dipikirin sih sebenernya… Jadi on topic!

Para fisikalisme ini naik lagi satu level dengan bilang bahwa, memang ada invisible path that connects our brain with other brains. Like.. you know, Wi-fi. Sepertinya masuk akal, tapi juga… ga masuk akal…

Ya ini sedikit mendefinisikan interconnectedness dengan cara yang… a bit odd, tapi efektif.

Ini mencover koneksi antar pikiran, karena jika sebuah ide adalah gelombang listrik (or an email), dan pikiran (otak) kita adalah komputer, kita cukup punya sebuah koneksi (in the form of matter apparently) untuk menjadi wifi yang menyambungkan sebuah ide ke komputer lain.

Not only that, this also, kinda covers that… universal mind that governs stuff theory, karena jika pikiran sendiri adalah sebuah substansi, tentunya punya suatu pikiran yang paling tinggi sangat masuk akal karena… Course, sebuah pikiran paling tinggi dapat mengatur hal-hal lain, karena pada dasarnya dia sebuah materi yang sangat… kuat.

Yeah kayanya pusing banget ya… Welcome to philosophy!

In Conclusion

Menggantung lagi, karena masih ada banyak hal yang emang belum aku cover, tapi untuk semua artikel dalam serial ini, akan aku bahas dengan semacam flashback, kembali ke artikel awal, dan tulisanku tentang Materialistic point of view. Seberapa spot on ilmu yang ku tangkap sebelum baca-baca ulang.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance.
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.

Untuk pertanyaan utama… Semesta ini memang terbuat dari banyak unsur, dengan banyak bentuk dan ukuran, tetapi semuanya memang bisa dibreakdown menjadi lebih kecil. So there’s some form of equality there?

Dia berhubungan dengan interconnectedness karena… well, substance yang sama bisa menjadi jembatan untuk ide dan pikiran. Selain itu, ada langit diatas langit, dan ada suatu hal yang memang di atas pikiran kita ini, jadi andaikan pikiran adalah materi… akan masuk akal jika ada matter yang lebih tinggi yang mengendalikannya.

Untuk poin terakhir… Yeah itu rada salah… Aku belum terlalu mengerti prinsip materialisme sepenuhnya tadi, tetapi ternyata materialisme tidak terbatas ke objektifikasi semesta ini (seperti para filsuf Yunani), tapi bisa lebih menyentuh… daerah lain, dan mencapai benda lain secara explicit. Jadi,karena itu banyak miskonsepsi karena… kurangnya pengalaman, oleh karena itu mohon maaf.

Semoga kesalahan ini tidak mengurangi kesetiaan reader pada blog ini, karena as you might know, everyone is still learning.

Till tomorrow!

Interconnectedness: Different Perspectives

Interconnectedness: Different Perspectives

3 lagi… (Posts to make to pay my debt, during last week’s camp)

Ya, sebenernya kuliah Jumat kemarin lebih pendek dari biasanya, jadi artikel ini juga ga bakalan terlalu panjang. Jadi, sesudah entah berapa artikel menyebut interconnectedness… Akhirnya ada kuliah yang memberikan beberapa perspektif berbeda. Karena sepertinya 1 perspektif tidak cukup memusingkan.

So, here we are!

The 5 Perspectives

Jadi ada 5 perspektif berbeda, in a sense, mereka melengkapi satu sama lain, but… yeah juga ada yang kontradiktif sih, jadi… begitulah (FYI, aku akan bilang begini kalau aku sudah speechless). Oh, dan bukan karena dia memusingkan jadi ga menarik. Justru menariknya gara-gara buat pusing.

Historically speaking, ada yang thinking disini terkesan less scientific, jadi di bagian ini aku juga mau jelasin biasanya filsuf era apa yang masih mikirin perspektif ini.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.
  • Vitalistic: Life Force… Daya/Energi/Kekuatan apa yang menggerakkan semesta ini?
    • Seperti adanya listrik di sebuah elektronik, atau koneksi internet di HP dan Gadget… Para vitalists percaya bahwa karena adanya universal Wi-Fi ini pikiran dapat mudah berhubung dengan satu sama lain. (Yes, in a nutshell, the vitalists believe that interconnectedness is practically a universal wi-fi, not a joke)
      • Perspektif ini lebih modern, karena sudah ditemukannya quantum physics, dan banyak medan-medan lain, seperti morphic resonance untuk menggerakkan suatu benda.
  • System Theory: Connections… Dengan pola seperti apa alam semesta ini dapat bekerja? Hubungan apa yang terbuat dalam sistem ini?
    • Mirip dengan Holon di Holarchy, System Theory percaya bahwa kita semua adalah sebuah… tiny cog inside the complicated engine of this realm. Semua gerigi akan berputar dan bekerja menyelesaikan tugasnya, sambil terhubung dan memutar gerigi lain. (Lengkapnya di artikel yang ada linknya di kata Holarchy itu yaaa)
      • Perspektif ini… sudah ada sejak zamannya Pythagoras, yang percaya bahwa setiap angka punya peran berbeda pada setiap sistem. Luckily, technology supports this theory far more than the materialists… dan sampai sekarang, teori ini masih sering dibahas.
  • Evolusionists: Process… Bagaimanakah semesta berkembang? Sejauh apa semesta ini telah berubah?
    • Para evolusionis percaya bahwa universal mind ini tercipta sesudah evolusi, dan sampai akhirnya kita terhubung satu sama lain, sesudah tiap spesies berevolusi. Bahkan proses evolusi in the first place ini tercipta karena some sort of random number generation oleh Universal Mind. Universal Mind ini pun menentukan siapa yang lebih kuat melewati seleksi alam. Kalau dilihat dari perspektif dark-nya, seleksi alam ini sebuah turnamen dan kita merupakan kompetitor yang ingin selalu bertahan hidup.
      • Perpsektif ini sudah ada sejak… Darwin. It’s rather modernistic. Course, ini terbilang modern karena root dasarnya adalah biologi dan evolusi yang dibuat Darwin.
  • Mystic: Consciousness… Apa perannya kesadaran dalam Interconnectedness?
    • Oh dear… Ini topik sensitif. It really is. Perspektif mistik ini bisa terbilang tercipta dari orang yang mendapatkan ilham/revelasi (or claims to have gotten a revelation, sayangnya meski ini ga scientific, itu salah untuk blindly percaya claim orang-orang), dan perspektif ini sangat relatif ke agama dan penerima-nya. Tetapi hampir semuanya kembali ke fakta bahwa consciousness manusia terpisah-pisah, padahal nyatanya hanyalah satu.
      • Perspektif ini sudah ada sejak agama monotheistic pertama muncul. Teori ini juga ada di culture Hindu, yang memiliki dewa yang tidak manusiawi (unlike European Gods). Sampai sekarang pun karena pentingnya agama di dunia ini, teori ini masih seringkali terpakai.

So after getting the perspectives out of the way, aku mau bahas masing-masing perspektif… di artikel lain… sorry, hari ini sepertinya aku sedikit… slow, dan karena aku emang rada ngutang beberapa tulisan… jadinya ini kupecah dua deh…

Well I really do hope you could understand 😀

The new article would be released later tonight 🙂 (And I’d link it if it was done)

In Conclusion

TO BE CONTINUED . . . .  🙂

Earth. A Short Poetry

Earth. A Short Poetry

This is once again, not an excuse of a shortage of ideas. Today I would like to present something different, I just had a random flash of lightning, maybe it’s from the universal mind, or earth or anything really. I got a message in the form of a poetry, which honestly I’m not even sure about its contents, but I’m going to write it anyway.

Minor break before we actually go onto the poetry, I actually really wanted to write a song, but I lack the instrument playing skills to compose, and… yeah I’m not making too much excuses here, point is I haven’t. So… let’s just get on to the poetry!

The Earth

I am the Earth
Mother of all life
I stood during life’s birth
and through neverending strife

I’ve felt joy and sorrow
All living things took its part
But now I fear there shall be no tomorrow
As humans have torn me apart

I feared their creation
There are many definite evidence
That these beings with great imagination
Have abused their intelligence

I truly love all my children
But it seems these ones don’t love me back
They’ve taken all that I’ve hidden
As if compassion is what I lack

I was created with many a resource
They all belong to nature
These humans, they took it all by force
Sucking all of them, it’s their behavior

These humans, they’re really cruel
Stripped their mother of her soil
Taking everything, from gold to fuel
They see them as nature’s spoils

It isn’t too late for them to change
Should they slow down and hear my voice?
It seems that taking care of me is strange
They’ve left me no choice

Oh my dearest children
I don’t want to finish you all
But you’ve cut my age by a million
I guess there must be a time for you to fall

I really wish you could forgive
But I’ve never been so mistreated
I wish that by doing this, I’ll be able to live
Earth will not be defeated

What kind of mother slays their own child
But what kind of children mistreats their mother
Every single bad deed that I’ve compiled
Counting one after another

Never before have I created children so intelligent
But never before have I seen a creature with such greed
They’re acts are completely arrogant
Only without them, I shall be freed

Had only they changed
Had only they could realize
And acted less deranged
To me they’re still life’s prize

 

In Conclusion

As I’ve said in the waldorf article released this very day… I really would let you conclude… The story has spoken about most of it…

However I am really just recently stepping inside the realm of poetry, so please… give me feedback! 🙂 Thanks!

Waldorf Middle Senses

Waldorf Middle Senses

“Waldorf-ians” (take my mother, for instance) believe that a human being has more than 5 senses. In fact, they have 12 senses. These senses are divided and separated onto 3 different categories, Lower, Middle and Higher. Each category has 4 different senses inside of them, each with different functions and levels of sensitivity.

Apart from that, each sense has a quality linked to them. The qualities of these senses are a representation of the sense’s real life interpretation.

Well, earlier today, precisely in the morning, Bubi told me to translate some sheets of paper, filled with writings about the middle senses. So, since I do still owe this site and its dearest readers 5 writings during my… trip, I think it’s a good idea to save some writings by posting this.

Matter of fact. the italic stuff from the first Middle Sense discussed today would be my commentaries, and the rest are raw translations from Mother’s writing.

So, let’s just start sensing… stuff… by going to the article.

Smell

Children are born without the ability to differentiate smell. We, as adults should be the ones to take our children to things that smell good, and avoid those that don’t

Babies are born with a very sensitive sense of smell, based on research on children at the age of eight, their sense of smell will remain the same until they’re around the age of 15.

A research that was done by la leche leaque supports mothers to initiate early latch on breastfeeding, immediately after birth without doing any form of cleaning to the baby.

There has been an experiment that babies will have a sensor to smell their mother’s breast, when one of the 2 breasts are cleaned, 24 out of 30 babies choose the breast that wasn’t cleaned.

Children need lots of experience with a diversity of smells through exploration, with many different smells, a child can feel a life that is meaningful, giving life to soul.

Research also shows that there is a part of our brain that can only be stimulated by scent. Our sense of smell is playing a huge part in our memories and emotions. This is caused because the first scent that we could smell is caught by the olfactory bulb that starts from our ears, and runs through our lower part of the brain.

This olfactory bulb also has a direct connection with our emotions and memories that are controlled by our amygdala and hippocampus.

What’s interesting is that visual, auditory and tactile stimulations do not pass through this area of the brain.

The quality of our sense of smell is Compassion, which might seem less meaningful should we choose to translate it onto Bahasa Indonesia, so I won’t translate it.

Compassion is the feeling that drives us to do something, to help, or to act. Our sense of smell has a deep connection with our feelings, and is also our window that moves us to do something.

It’s a bit confusing. I still couldn’t quite completely understand this sense among the other 12 senses, and how its quality could be compassion. However I do understand that if we smell something that tastes bad, we’d basically avoid it, and sometimes we’d feel that that thing is literally pushing us away from it, purely because it smells bad.

So… the sense of smell really does trigger us to do something faster than other senses would.

Taste

The sense of taste are most easy to recognize through our mouths.

Through sensations that are felt by our tongue, we know sweet, salty, sour and bitter flavours.

The flavour sweet is enjoyed as something delicious and special. The bitter flavour on the other hand is commonly avoided and is deemed something that is less fun.

In our lives, we also know taste. The sweetness of life refers to the fun experiences, while the bitterness of life often describes bad things, those far away from fun.

Then we also know the saltiness of life, as an image of our lives that are filled with stories and full of diverse experiences.

We also accept taste as an image of what’s happening inside of us. Through tasting, we determine our attitude. Specifically with what we feel inside of us.

Taste awakens the “I” inside of us, or in fact, the other way around.

Kids are more sensitive with flavours, even babies, whose mother is feeling sad, then babies also tend to be more demanding and fussy.

Through breastfeeding, babies could taste the many flavours of food. Even kids should grow up enjoying the many flavours of food.

Taste is relative. Not only in food, because not everyone likes the same flavours of food. Some people like spicy food (which like I said before in this article, isn’t a taste, it’s a sensation), some people prefer sour foods, and actually its relative, like everything is.

Bubi told me that taste also determines what our people see in us, because of course, different people have different taste in clothing, color, and… girls (or guys). Well, taste is determined with a form of experience as well, I kinda guess… (not really sure, this form of knowledge is like philosophy, but a bit more complicated).

All and all, taste is what I deem an intriguing sense, because it really does correspond with both emotions and the physical realm, like… you know, the universal mind, and other philosophical stuff. Waldorf-ians (NOT AN ACTUAL TERM) really do know how to make me feel and sense stuff.

Sight

The quality from the sense of sight is Honesty.

The eyes are said to be the windows to our soul. Through staring at one’s eyes, we can start too believe, and feel whether or not he (or she) is honest.

The eyes are also the core of morality and they are capable to build ones character.

The eyes develop our consciousness, as we start judging. But out sight only functions as a superficial object, with limited capabilities. Oftentimes we judge something not by its truth, but what we saw.

Our sight is also very limited, if we focus our sights so quickly, everything around us will look like a blur.

Seeing might be thought of as believing, but it isn’t. Especially in Waldorf education, relying on your sight alone won’t be enough to detect emotions, there are many other senses to “convince” you to believe something.

Although questionable, seeing is believing isn’t really that incorrect, because you’d only actually believe something after you see it, and in terms of honesty, we do believe someone after seeing them. Note that this is still oftenly affected by other senses as well.

Warmth

We could easily recognize the temperature of an object. Our touch, and our whole body could recognize whether the object warm, hot or even cold.

Apart from the temperature that we touch, we could also know warmth through what we feel. When we enter a room, we can judge whether it feels warm (accepting our presence), or cold (rejecting our presence).

Of course we would be reluctant to enter a store that gives us a cold sensation, as if everyone inside that store rejects our presence. On the other hand we feel comfortable going inside a room whose warmth could be felt, making us feel more welcome.

It’s pretty obvious that if we feel more warmth inside of a room, we’d want to go in there, and we’ll actually enjoy the vibe. Although there are times that I think it’s a bit tricky to get the coldness and warmth ratio to be… just right

In Conclusion

In Conclusion… I am sort of out of words right now.

Well, I guess it really is up to us to conclude, because if I recalled precisely, Waldorf Education doesn’t really teach its students or future teacher the conclusion of a subject. It is all up to you to conclude, and no conclusion is right or wrong.

So, here we are, up to you what do you want to conclude from this article?

(This is DEFINITELY NOT! an excuse because I’m far too out of words to actually conclude something, definitely NOT)

Kalibre Backpack Review

Kalibre Backpack Review

HWAAAA Sudah 5 hari ga ada post… (Excluding yesterday)

Anyways, I had some form of camping trip a while ago. Tapi tidak seperti camping trip pada umumnya, aku jalan kaki dari Taman Malabar ke Gunung Puntang. Sesudah dibelikan Carrier yang proper sama Tante-ku tercinta tahun lalu, aku memutuskan untuk memakainya. And here’s a review of that carrier, and how it kinda helped me get through my 12 hour 27 kilometer hike.

Pertama-tama model yang ku review adalah Kalibre Metroplex 01, mine is blue and orange, tapi aku yakin ada banyak warna lain. Anyways, let us climb upwards to the article!

Pros!

Produk Kalibre yang ini sepertinya punya banyak hidden trinket, kaya ada hidden pocket, banyak flap kecil dan lubang untuk sedotan, selain itu, Kalibre juga memberikan user-nya cukup banyak metode untuk packing dengan mudah, karena ada banyak zipper disana sini, yang eventually juga nyambung sama tas utama.

Apart from that, tas ini juga punya tempat diluar tasnya untuk menyimpan matras, menaruh sleeping bag, dan of course, tempat menaruh botol minum. Oh dan andaikan kita punya walking stick yang ukurannya ga gede-gede amat, kita bisa selipin walking stick itu ke tali dengan velcro untuk mengunci si tali dengan tas-nya. With that, we don’t really need to hold it tight, dan kita ga perlu khawatir si tongkat itu akan kebawa air, atau jatuh.

Oh, juga ada raincover yang cukup waterproof, dan dapat menempel ke tas-nya dengan cukup kencang! (masih kalah sama air yang bukan air hujan sih…)

Selain banyaknya mini trinket disana sini, Kalibre Metroplex 01 dengan ukuran 45 liter ini masih punya fungsi yang optimal sebagai carrier.

Selama perjalanan, tas ini tidak memberiku sakit punggung of any sort, dan overall cukup enak dipakai, bisa diatur ukurannya untuk fit pengguna, dan mudah untuk dikencengin.

Iya sebenernya aku ga tahu di review backpack ada apa saja yang perlu dibahas, maklum ini review pertamaku, dan aku bukan orang yang terlalu peka atau kadang bahkan aku ga peduli sama yang namanya kenyamanan… That is sampai aku merasa kesakitan.

Jadi sebenernya kalau untuk toolbox yang disediain sama si Tas Kalibre Metroplex ini, sudah cukup banyak untuk packing se compact mungkin (kecuali skill packingmu seperti aku, yang cemen)… Comfort yang diberikan dengan padding, support dan jetrekan (atau itu lah istilahnya), juga sudah cukup nyaman.

Overall, untuk sisi positif dari tas Kalibre ini bisa di sum up dengan… Tas ini nyaman, dan punya banyak fitur tambahan untuk dimanfaatkan agar bisa membuat packing lebih compact.

Cons (or what could be better)

Well, tas ini punya sedikit (or actually a lot) masalah dengan jetrekan untuk memastikan tas tertutup. Tas ini punya sekitar 6 cliplock (tadi googling dulu hehe), masing-masing berfungsi untuk secure suatu benda, kaya ada yang buat matras, ada yang buat menutup upper lid tas-nya, dan juga untuk Compartment Sleeping Bag, dan banyak we lah.

Well, dari banyaknya cliplock yang ngunci trinkets tadi, memastikan barang bawaan tas-nya aman, seringkali cliplock ini copot-copot dan aku perlu meminta tolong temanku untuk membenarkannya. Cliplock yang ga enak dan gampang copot ini ada rada banyak sih, bahkan kayanya semuanya, termasuk yang di Waist Pad.

Masalahnya adalah kalau cliplock ini suka copot-copot, di daerah yang secure barang, itu akan sedikit memakan waktu untuk membenarkannya berkali-kali karena cliplock ini kurang enak, atau bahkan jika misalnya kita lagi menyusuri sungai dengan carrier, karena keadaan memaksa, cliplock yang copot bisa berujung ke Sleeping Bag yang terbawa arus, atau matras yang hampir hanyut.

Untungnya itu tidak terjadi kemarinnya…

My biggest concern with the cliplocks are that… some of these cliplocks are meant to secure the bag. Cliplock-nya ada untuk memastikan si tas ini tidak terbawa arus, dan tetap bisa dipakai dengan kencang. Sayangnya, aku kadang harus waspada dan merasa tidak aman karena seringnya cliplock ini copot.

Tapi untungnya masih lebih banyak lagi hal baik yang diberikan oleh tas Kalibre ini, namun sedikit mengecewakan saja mereka menggunakan cliplock yang kurang kenceng, karena penggunanya juga pasti akan merasa jauh lebih enak lagi dengan sesuatu yang hanya merupakan minor improvement.

Overall, menurutku Kalibre seharusnya menggunakan cliplock yang lebih baik karena sangat disayangkan experience menggunakan tas yang banyak fungsi sampingan dan nyaman itu rusak karena sebuah jetrekan yang simpel. Cliplock ini juga membuat penggunanya merasa sedikit tidak aman karena desain yang sudah compact dan efisien ini disecure dengan beberapa cliplock, yang sekali lagi… kurang ngejetrek… jadinya gitu deh.

In Conclusion

Well, sebenernya tas dan peralatan itu cuman alat. Mungkin kita bisa punya tas yang sangat baik dan compact, heck, tas yang jauh lebih bagus dari tas Kalibre ini, tetapi ketika kita sudah di alam, segalanya kembali ke persiapan dan skill yang kita miliki.

Mau kita pake tas yang bagus, lengkap dengan peralatan yang bisa ini bisa itu, atau apa lah… Kalau kita tidak punya skill yang cukup untuk memanfaatkannya, jadinya tetep saja, tas yang “mahal” dan “bagus” itu jadi tidak ada nilainya.

My conclusion is a way of saying that, tas yang bagus memang penting, tetapi preparasi jauh lebih penting kalau kita terpaksa untuk melakukan perjalanan dan menghadapi alam. Andaikan kita kurang preparasi, atau kurang skill, jadinya… ya… hal buruk akan terjadi.

Which is also why you should look a bit lower of yourself and remain humble. Don’t compare yourself with others, even if you think you’re better than them.

Semoga artikel ini dapat dinikmati!

Review of Pacific Rim: Uprising

Review of Pacific Rim: Uprising

Once again, Pacific Rim has proved Transformers wrong by saying that… Giant Robots can kill other gigantic stuff and still have a good story to compliment the robots’s punching.

Sebenernya dalem Nutshell, Transformers dan Pacific Rim ini mirip, in the sense that it’s giant robots, killing other stuff that threaten humans. Tapi masih banyak perbedaan yang membuat Pacific Rim ga rely ke merchandise, girls, dan special effects to make money, and have a movie of proper quality…

Enough about Transformers… it’s boring, dan artikelnya berjudul Pacific Rim, bukan Transformers. So, like a Jaaaaaaaeger we shall march and carry on intel.

Oh dan iya aku ngikut Jeremy Clarkson dengan bilang Jaaaaaaaaeger instead of Jaeger, and Jaaaaag instead of Jag.

Spoilers may happen, suddenly popping up like Kaiju in the Pacific Ocean.

(Aku nonton ini setengah ngantuk karena abis camping, I might miss a scene or two)

FN-2187 Reprogrammed

Finn dari Star Wars jadi tokoh utama di film ini… also, apparently he’s British. John Boyega sendiri memainkan karakter yang mirip-mirip sama Finn di Star Wars, yang nyantai, tapi kadang lucu, dan ga suka sama sistem yang mengaturnya.

At first Jake Pentecost ini semacam seseorang yang bergerak di bisnis illegal, tapi eventually dia ketangkep… dan ya… nonton film-nya aja deh.

Karakter Jake ini cukup lucu, karena sebenernya dia serius, tapi well… santai. Kadang suka bikin penonton ngakak, kadang suka lempeng, dan emang karakternya… well, he’s funny.

Tapi dia juga kadang suka nongol sebagai karakter serius, yang although ga dingin-dingin amat, dia bisa serius, dan at times dia cukup calm and calculated to do stuff.

Jadi, keseriusan dia, diwarnai dengan kelucuan karakternya. There’s another side to him though. Dia juga reckless, in the sense that he doesn’t really care about some stuff, kalau dia lagi ga kalem dan ga mikir panjang, banyak tindakan yang kalau dilihat… either bodoh atau berani.

Tokohnya overall cocok menjadi tokoh utama jaman sekarang, yang honestly ga boleh perfect, karena itu boring, dan juga jangan terlalu scarred karena trauma. Jake Pentecost memberi kita eksposur ke, karakter utama yang ga sempurna, manusiawi, dan punya faktor past yang pas untuk menjadi karakter yang jadi center of attention.

Contrast

Bagian ini kurang lebih membahas kontrasnya film pertama dan kedua.

Kalau Pacific Rim sebelumnya lebih membahas perang Kaiju dalam keseluruhan, dan gimana sebuah world seperti itu masih bisa thrive dan selamat dalam situasi yang… begitulah. Kali ini, Pacific Rim: Uprising membahas sistem internal dan konflik di dalam sebuah sistem yang menjadi intrik sendiri. Selain itu, Uprising juga membahas progress sebuah rookie untuk menjadi professional, bukan hanya tracing si professional sendiri.

Karena transisi tokoh utama dari pros di film dulu ke rookie, jadinya development si karakter lebih terasa. Karena para rookie ini emang masih remaja, perubahan mereka jadi lebih dewasa membuat ceritanya lebih WAH…

Di film sebelumnya, Raleigh Becket (Charlie Hunham’s character), masih mengikuti ideologi tokoh utama pada umumnya, which is in a sense perfect, kecuali karena past trauma-nya. Seperti disebut di sebelumnya, kali ini karakternya lebih manusiawi dan tidak jadi heroik karena trauma.

Overall, kontras dari kedua film ini cukup banyak, dan benang merah cerita antar kedua film juga ada, tetapi film ini terasa sebagai sambungan yang baik karena memutar perspektif, tanpa lupa menghubungkan ceritanya.

Internal System

Seperti disebut tadi, growth sebuah karakter jadi jauh lebih terlihat gara-gara karakter utamanya masih pemula. Ini bisa dibuat seperti itu karena di Uprising, konflik utamanya terjadi secara internal.

Internal System di film ini cukup… well in a sense lucu, karena manusia sepertinya paranoid sekali, si perang udah kaga ada 10 tahun, dan tetep aja ngelatih kadet, dan nyiapin persiapin perang juga.

Terus selain itu, banyak personal connection yang kejahit dalam film ini, in a rather, unexpected way. Karena selain sistem internal yang dimanipulasi di film ini, juga banyak hal di Uprising yang menunjukkan seberapa banyak personal judgement affect professionalism, yang seharusnya kaga ada disitu.

Sistem yang di highlight-nya sama aku ga mau terlalu dalem, cuma emang udah dikasih peringatan ada spoiler… Intinya inget aja deh. Konflik utamanya dipicu secara internal karena banyak manipulasi oleh seseorang yang berada di atas sebuah sistem.

Well, jangan terlalu diperhatiin sih, nonton aja.

In Conclusion

A contrast of things are always good in life.

One second you feel you’re on top of the world, the other you feel you’re rock bottom.

One second you feel comfortable, the second you’re pushed out of your comfort zone.

Intinya, kontras di film ini bener-bener bagus, karena banyak hal yang 180 derajat diputar perspektifnya, tapi masih somehow bisa dihubungkan dengan film pertama. It’s a rather nice sequel, that could be a spin-off at the same time.

Regardless, meskipun ada banyak kontras dan perbedaan di film ini, intinya tetap saja sama, bahwa manusia menjaga dirinya sendiri dari sebuah ancaman eksternal. Layaknya sebuah lukisan perbedaan dan ke-kontrasan ini memberi warna, tapi jangan sampai kita melupakan inti utamanya sebuah film, atau bentuk utama si lukisan itu. Dalam sebuah manusia, itulah inti kepribadiannya seseorang.

Overall, you should watch it, because it’s very good.

Hope you enjoyed the article!