Month: February 2018

Flash Writing: Irreversible Mistakes

Flash Writing: Irreversible Mistakes

Seri Flash Writing ini adalah seri yang aku (Azriel) buat ketika aku butuh tulisan yang selesai dengan cepat… Aku yang sedang berusaha membuat satu post per hari, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi blog ini dengan tulisan, bahkan di hari yang sedikit sibuk. Artikel Flash Writing ini relatif pendek (dibawah 750 kata). Regardless, konten di Flash Writing akan tetap menarik. Enjoy The Article!

Waw…. terkadang ada saat aku berharap bisa memencet tombol Ctrl-Z dan undo beberapa hal yang… basically stupid yang aku pernah lakukan sebelumnya. I mean, most mistakes are irreversible, what can I do about it… Tapi, andaikan ada time machine, atau possibility untuk mengulang hidup kita di dimensi lain, apa yang mungkin terjadi… Bagaimana kalau semua kesalahan yang kita buat, yang irreversible itu, jadi… reversible? What could happen to both, the physical world, and the philosophical thought of humans.

Time Machine

Okay, to be fair, aku ga mau bahas mengulang hidup di dimensi lain, karena itu kompleks. Star Trek Discovery masuk ke topik itu untuk 3 episode, dan to be fair, masih ada hal ga jelas, karena ada #plottwist di serial itu… Jadi, aku mau bahas possibility time machine yang bisa diakses semua orang untuk melakukan Ctrl-Z di semua mistake yang pernah mereka lakukan.

It’s a bad thing. Meski ada kemungkinan bahwa Time Machine bisa saja jadi sesuatu yang real, tapi Time Machine sendiri, itu a bad, terrible, idea. Lebih parah daripada introduction Youtube ke anak-anak… since… okay let’s discuss that.

Imagine, bahwa aku orang. (sorry, this gives a chance that I’m not human… and apparently, I am human) Dan aku melakukan kesalahan bodoh. Terus aku pencet Ctrl-Z for the sake of undoing the mistake. Yeah, kasih contoh aja deh. Misalnya, aku cukup clumsy untuk mencuci baju putih dan warna, disatuin.

Well, pas beres, warna dari baju warnanya luntur ke yang putih. And umm, yeah that’s pretty stupid, but… eh, bisa di undo tanpa konsekuensi. Tinggal ulangin lagi deh. Kalaupun aku ga sengaja ngotorin lagi, maka ya tinggal undo lagi. A life without mistakes is one that never improves.

Nah, tapi ini buat sesuatu yang bersifat personal dan… ada hasil yang real dari kesalahannya. Jadi meskipun kita udah undo seringkali, eventually we’ll learn. Tapi ga ada baju yang luntur doang. Sama kaya mecahin gelas, tinggal di undo dan gelasnya normal lagi. Mau seberapa clumsy kita masih akan indirectly learn stuff.

Bayangin kalau… Kita membuat orang lain merasa tidak nyaman… until the person basically dislikes us. Sure, kita tinggal undo, dan konsekuensi-nya ga bakal pop up.

Unfortunately, kita ga bakal tahu hal apa yang membuat merasa orang tidak nyaman sampai orangnya sebel. Kalau kita tahu orangnya kesal sama kita, baru kita undo. Tapi, aku yakin, kita ga bakalan grow as a person, karena, kalau kita bisa reverse every mistake we do, yaaaaa…. buat apa peduli alasan orang lain ga suka kita. Pas orang lain mulai ga suka kan tinggal di reverse.

So, no, time machines are a bad idea… Because people will never learn from their mistakes, and they would nor should they ever care about making a mistake.

Physics?

Do not read this part if you don’t want to be confused

Ya, kalau semua orang reverse semua mistake mereka, maka… ummmm… well, time machine itu rely ke create sebuah alternative timeline. Begitu kita balik ke sebelum kita menciptakan mistake, timeline alternative akan tercipta. Di timeline itu, ada set of events baru, dan hasilnya bakalan ada banyak alternate timeline.

Now, kalau setiap hari ada 10000++ alternate timeline tercipta, (one for every mistake made) Space-time Continuum akan robek, dan basically, this universe will fall apart. Karena waktunya terlalu berat. Ruang-waktu akan robek kalau banyak hal yang melewatinya dalam satu waktu yang bebas.

Bukan cuma itu, kalau satu event merobek si kain space-time ini… robekannya bakalan affect events lain…

So, basically, kita ngerobek kain berkali-kali, sampai benar-benar pecah, dan rusak. Masalahnya, kain itu dimensi kita. Jadi, janganlah gunakan time machine, side effects-nya terlalu banyak, high risk low reward… Don’t do it.

In Conclusion

Let’s not repeat the same mistake twice.

Making a mistake is a common thing to do. The difference between people who are smart and who are… not so smart… are those who never learn from their mistakes. If you don’t learn from your mistakes, that’s a bad news, since, you would never grow as a person.

Regardless, kalau kita belajar dari kesalahan, kita ga perlu time machine kok… Hope you enjoyed this article….

Also, sorry to everyone I’ve ever pissed off, or annoyed, I’ll try my best to not repeat the same mistake twice.

Everyday Things Made Complicated: Potatoes!

Everyday Things Made Complicated: Potatoes!

Everyday Things Made Complicated adalah seri post yang akan ada seminggu sekali, membahas hal sehari-hari yang simpel, tapi dalam perspektif yang kompleks… karena, aku percaya bahwa segala sesuatu bisa di present dalam cara yang lebih menarik dan rese. Plus, aku emang lebih suka hal kalau dibuat rese. Regardless, konteks-nya setiap minggu akan mirip-mirip, namun yang berbeda objek yang dibahasnya. Enjoy reading!

One Potato Two Potato… Kentang! Siapa sih yang ga suka kentang? Wait, no, kayanya ada orang yang ga suka… Anyways, siapa yang ga pernah makan french fries sih seumur hidupnya? Kentang ini mungkin hal yang sangat sering orang-orang encounter setiap harinya. Meskipun bukan makanan baku orang Indonesia seperti Nasi, kentang itu bisa jadi alternatif karbohidrat yang bagus.

But seriously though… Banyak orang yang ga tahu beberapa hal penting mengenai kentang… Well, not exactly penting, tapi… Fakta trivial mengenai kentang selalu bisa jadi party trick, atau… like popping up a random conversation… Just… okay, banyak yang salah mengenai paragraf ini… Hang on…

Kentang sendiri… punya a fairly long History… Dan aku mau bahas history dan scientific facts behind the potato itself… Jadi, loncat langsung ke artikelnya aja yuk…

Potatooooo

What on earth is a potato actually? Kata WHO Kentang itu karbohidrat. Which is true, itu emang karbohidrat, dan perlu dikonsumsi bareng protein, dan sayur baru bisa jadi full meal… But, apart from that…

Kentang sendiri juga… umm… kentang… yang berasal dari keluarga solanaceaea? Hang on, cek wikipedia dulu, aku ga inget ejaannya. Solanaceae. Solanaceae ini genus yang sebenernya rada-rada diverse, karena, dalam “keluarga” yang sudah cukup detail ini, banyak sekali perbedaan bentuk yang variatif.

Well, for starters, Kentang sendiri, yang berasal dari umbi Tanaman Kentang itu… diambil umbinya. Tapi, ada juga Tomat, yang merupakan sepupunya Kentang, tapi source makanan yang bisa diextract dari Tomat itu buah. Terus juga ada Cabbage, (or as the Klingons say it, Kol… Ga kok, itu bahasa Indonesia-nya. Tapi, Kol itu nama Klingon) Cabbage yang dari Solana… however you’d like to spell it… Tanaman yang entire tanamannya dimakan. Jadi, sebenernya, genus-nya Kentang ini rese… Since, banyak sepupunya yang beda jenis.

On topic… Ini semua bisa dibaca di Wikipedia, jadi kita mulai masuk ke hal yang lebih fun-nya saja…

“French” Fries?

Are French Fries really from France?

Well, ada 2 teori asalnya French Fries ini, Belgia, dan Prancis… Daerah itu memproduce cukup banyak kentang, jadi sama mereka dipotong-potong and dijadikan kentang goreng.

Tapi, believe it or not, sebelum dibahas Nationality Fries-nya sendiri…

Ada teori yang bilang bahwa French Fries sendiri, asalnya ga langsung digoreng pake minyak kaya yang kita suka makan sekarang. The first French/Belgian Fries direbus… Memang sih, gaya dipotongnya betul kaya gitu, tapi originally, French Fries direbus, dan BUKAN di goreng. French Fries yang digoreng itu semacam adaptasi modern, (hang on, sebenernya ga modern-modern amat juga sih), tapi aku belum dapat believable teori asalnya dari mana. Maybe dari U.S.? Or, probably… I’ve got no clue for now.

Tapi, jadi, kewarganegaraan French Fries ini sebenernya dari Belgia atau Prancis sih?

Jadi, aku baca buku yang membahas penemuan yang rada… lucu… dan si penulisnya lagi usil, dan kepo. Jadi, si penulis buku itu ngebuktiin ke orang Prancis, French Fries asalnya emang dari Prancis.

Si penulis iseng nelpon Embassy Belgia di negaranya. dan dia rekam, (though it is unofficial) kurang lebih conversationnya kaya gini…

  • Writer: Permisi, ini Embassy Belgia?
  • Embassy: Iya betul, bukannya nama kontaknya ada di buku telpon ya?
  • Writer: Conversation ini direkam ya…
  • Embassy: Kenapa direkam mas?
  • Writer: Ga kenapa-kenapa sih, aku mau nanya aja, kalau kentang yang dipotong-potong itu, terus digoreng, dan rasanya enak itu namanya apa sih? Aku lupa?
  • Embassy: Maksudnya French Fries Mas?
  • Writer: Okay, makasih ya udah konfirmasi asal kentang goreng itu dari prancis..

Konyol sih, tapi at least orang Belgia udah punya Belgian Waffle! Btw, itu conversationnya di translate casually, dan dipersingkat, karena buku itu dari U.S….

So, French Fries are officially confirmed by Belgians to be from France.

Help… I’m Thirsty…

Umm… Kentang bisa dehidrasi, and I really do mean it…

Tahu sama yang namanya Potato Chips?

Yeah, Chita** dan merek-merek lain dengan beberapa syllable Potato di namanya itu… Semuanya kentang Dehidrasi. Which, memang kentang sih, makanya disebut Potato Chips… Tapi, masalahnya, Dehidrasi dari sebuah kentang, itu, selain fakta yang obvious bahwa kentangnya kehilangan airnya… Juga ada fakta penting lainnya, 75-80% komposisi Kentang (mentah, dengan kulit) itu air…

So, kalau Kentang Dehidrasi, Kentangnya kurang lebih kehilangan, at least 3/4 dari air di kentang itu. Which means, lebih dari setengah komposisi Kentang itu hilang. By technicality, potato chips itu, perlu disebut…

Just Half Of A Potato… But We Chipped In…

Okay, bad joke… Kalau ngerti pun mungkin ketawa, otherwise, emang cuma setengah doang Konten si Kentang itu yang tersisa.

Apart from that 80% of water, apalagi komposisi si Kentang? There’s 18% carbohydrates, 2% starch (zat tepung), terus… juga ada Vitamin dan mineral… yang nyampur di airnya…

So, kalau orang bilang kentang itu sehat, it’s true… But Potato Chips? Nope, they’re not healthy… Airnya ga ada, banyak micin-nya, and… isinya cuma Starch dan Karbohidrat doang, mana sehat…

Well, sebenernya, teknik membuat si Kentang ini Dehidrasi itu diciptakan di abad ke 19… Dulu, Kentangnya dikupas, terus diinjak-injak sama buruh di alat khusus untuk dehydrate si Kentang itu sendiri… Bad idea… seriously, aku belum kebayang dapet idenya dari mana… tapi… bad idea…

Di beberapa daerah yang kurang air. Orang-orang dikasih minum dari air yang didapat dari kentang dehidrasi, which bekas kaki buruh… WHAT? mereka barefoot ya, yang ada malah makin sakit atuh. Terus kentang dehidrasi-nya juga dikasih sebagai makanan… Gross, and… Pokoknya silly banget lah… Kacau sekali orang-orang itu.

Udahmah air-nya kotor bekas kaki… air di kentang yang mentah itu ada resiko racun, meskipun ga bekas kaki… Jadi, ini mungkin, worst of worst case scenarios… Kebayang…

Watery?

Short fun fact… Dari semua Staple Carb di dunia, Kentang yang paling banyak konten airnya, baik percentage wise, or number wise. Kentang ngalahin konten air yang ada di Nasi, Sorghum, dan Singkong.

Potato Chips!

Right… Jadi, si Potato Chips ini emang potato chips sih… Dan emang bisa juga dibuat dengan fully hydrated potato, tapi yang biasa dijual di supermarket itu buatan pabrikan, dan Kentangnya memang dibuat dehidrasi dulu. (btw, itu dibuat dehidrasi pake alat bukan pake kakinya buruh kaya abad ke 19 lagi kok).

Nah, Potato Chip yang emang actual chip ini, berasal dari chef yang sebel ga ada dua sama pelanggan…

Si pelanggan itu sebel karena menurutnya, si chef ga bisa ngemasak fries dengan bener, karena dia motongnya tebel, dan masih sedikit soggy dan kurang kering.

Pas si pelanggan sebel karena makanan dah dibalikkin 3 kali, si Chef ini sebel dan keluar, terus ngomong sendiri sama pelanggannya. Kurang lebih ini yang terjadi…

  • Chef: Kenapa Pak? Apa request-an kentangnya? Itu udah cukup tipis dan kering.
  • Pelanggan: Ini kurang kering, kurang tipis, lu bisa masak ga sih? (orangnya emang nyebelin)
  • Chef: Kalau terlalu kering entar jadi Martabak Tipis-Kering dong… Bapak mau makan tipis kering?
  • Pelanggan: Buat setipis dan sekering mungkin, atau aku tolak dan ga makan disini, keluar dengan bad review.
  • Chef: Okay, saya buat setipis orang bisa masak, dan kalau perlu sampe kering ya! (dengan kesal)

Jadi si chef ini, motong itu kentang ala potato chip (dengan rigi-rigi kaya di Potato Chip pada umumnya) terus di goreng super kering… dan conversation ini terjadi…

  • Pelanggan: Pak Chef… makasih ya…
  • Chef: *bingung* (perasaan tadi aku… sengaja biar dia tahu rasa tuh)
  • Pelanggan: Seumur-umur makan kentang goreng, aku belum nemu yang seenak ini…
  • Chef: Oh iya… makasih ya…

And si Chef ini buat Potato Chip itu jadi menu resmi yang laku… Until dijadiin patent, and he’s rich now, since, everyone likes a potato chip!

Staple Foods?

Satu hal yang masih sedikit membingunkan… Kenapa Kentang bisa jadi karbohidrat di sebuah Famili, yang hampir semuanya buah-buahan dan sayuran, ataupun bunga. Unlike beberapa Staple Food lainnya, yang memiliki sebuah Famili, or at least Genus yang berisi cukup banyak varian karbohidrat…

Selain itu, Kentang juga, gak sekeluarga sama Singkong, and… unexpectedly, Sweet Potato juga bukan kerabat yang dekat dari Kentang… although admittedly, Kentang memang kerabat terdekatnya kalau dibandingin Carbohydrate yang lain, memang Sweet Potato.

And, another unique fact among Potatoes kalau dibandingin Staple Carb/Food lainnya, Kentang juga salah satu carb yang punya bunga kalau dibiarkan fully grown tanpa diambil kentangnya. Bunganya si kentang ini juga bagus lho, meski ukurannya relatif kecil, bunganya kentang ini imut-imut tapi bagus. Warnanya cenderung putih atau ungu.

But downside… Kalau mau pelihara bunga kentangnya, jangan coba-coba diambil kentangnya ya, since mungkin kentangnya sudah penuh dengan akar, dan potentially poisonous untuk manusia kalau dikonsumsi… Besides, kalau udah ada bunganya, si Umbi kentang itu warnanya jadi keunguan… Dan, yah, don’t eat purple potatoes… just don’t

Potatoes… Flash Facts:

Sebelum ditutup, kita pake beberapa flash facts dulu, yang hopefully, lucu dan menghibur…

  • Kentang terbuat dari Kentang… 😀
  • Jangan berusaha mengeja nama famili-nya kentang, entar kamu pusing sendiri
  • French Fries mungkin berasal dari Belgia… (udah tadi, tapi kali lupa) Tapi orang Belgia ga tahu itu
  • Orang marah bisa menciptakan hal yang seenak Potato Chips… Jadi, kalau mau orang masak sesuatu yang enak, buat dia kesel… 😀 (I don’t do this to Bubi)
  • Kentang berisi air, dan basically, dia air, tepung plus karbohidrat dicampur.
  • Kentang ungu rasanya gak enak (not that I know of its taste, but… it’s poisonous), jadi jangan dimakan.
  • Kalau mau tanam kentang, tentuin mau bunga-nya, atau mau kentangnya, ga bisa dua-dua nya
  • Ga ada keluarga kentang yang merupakan karbohidrat juga… Dan dia kerabat jauh diantara circle para Carb.
  • Kentang, rada rese kalau dipikirin dengan detail

Mungkin ini cuma repetisi, tapi dikemas sebagai joke sih… 🙂

In Conclusion

Kentang rasanya enak…

Tapi, hal kaya kentang bisa jadi topik artikel… Dan, percaya atau ga, aku ga terlalu masuk sainsnya secara dalem kok, lebih ke implementasi makanannya.

Kalau mau fakta sains, lagian tinggal ke Wikipedia, disini, ada fakta trivial, dan metode membuat sesuatu yang simpel jadi hal yang lucu, tapi tetep jadi ilmu…

Regardless, hope the article is enjoyable!

Flash Writing: Paper Programming

Flash Writing: Paper Programming

Seri Flash Writing ini adalah seri yang aku (Azriel) buat ketika aku butuh tulisan yang selesai dengan cepat… Aku yang sedang berusaha membuat satu post per hari, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi blog ini dengan tulisan, bahkan di hari yang sedikit sibuk. Artikel Flash Writing ini relatif pendek (dibawah 750 kata). Regardless, konten di Flash Writing akan tetap menarik. Enjoy The Article!

Is it possible to program something… without… a computer?

Anyways… ini topik flash writing hari ini…

Code.org has a method…

Website belajar programming (for kids) terbesar di dunia saat ini, Code.org punya metode untuk belajar programming tanpa menggunakan komputer lho…

Code.org sendiri of course lebih banyak menyediakan course dengan komputer, tapi itu ga mau aku bahas sekarang, jadi… umm… staying on topic.

Code.org sendiri mengemas one hour course-nya dengan game yang cukup fun dan challenging untuk dimainkan anak-anak. Level kode-nya sendiri terbilang cukup mudah. Tapi, fungsi course ini semuanya cuman satu… Ngajarin anak cara komputer mikir.

So, sebenernya, kita ga harus beneran punya komputer buat pelajari cara komputer mikir sih, asalkan kita tahu cara si komputer sendiri itu mikir. Which, sebenernya, tahu cara komputer itu mikir ga terlalu susah… Yang susah itu mengkonversi thought process si komputer ke thought manusia. Makanya, programmer butuh logic yang kuat innately, karena struktur bahasa programming itu bisa dipelajarin kok.

So… How does a computer actually think?

Hampir semua PDF yang memberi anak-anak sample projek kode (yang menurutku bagus) punya ini.

Kalau orang gak tahu philosphical thought komputernya, bakalan rada susah jadi programmer sih…

Now, aku mau pake contoh aja ya, comparing Human thought and Computer processing… (ga bisa dibilang thought, since I believe in Descartes’ I Think Therefore I am… topik lain hari)

Human Thought

Aku haus –> Aku mau minum –> Aku minum

Aku ngantuk –> Aku mau tidur –> Aku tidur

Ada tugas yang perlu kukerjain –> Aku pikirin cara ngerjain tugasnya –> Aku kerjain tugasnya

Sebenernya “line”/step ke dua ga perlu, tapi itu harusnya udah cukup buat ngejelasin human thought

Computer Process

Kalau aku haus –> Cari air –> Ambil gelas –> Isi gelas –> Minum air dari gelas –> Taruh gelas di meja

If ngantuk = true –> Jalan ke kamar –> Cek, kamar kunci atau ga. (lanjut bawah)

If kunci = true –> Ambil kunci –> Buka kunci –> Buka pintu –> Naik ke kasur –> Tidur

If kunci = false –> Buka pintu –> Naik ke kasur –> Tidur

Kalau tugas mungkin lebih rese lagi jelasinnya, tapi intinya kebayang lah ya, kalau mau komputer bekerja dengan fungsional, maka harus jalanin step-by-step nya…In detail… Karena, kalau ada satu step aja yang kelewat, si komputer akan bingung menghadapi situasinya dan… umm… ya code malfunction. Bahkan, “kode” diatas belum lengkap, soalnya kondisi false-nya belum tercapai.

Dan, masih ada hal penting yang terlupakan… Kode-nya andaikan kelebihan satu tanda titik, atau even, satu tanda spasi, bakalan error…

Jadi kalau mau jadi programmer, ada 3 hal yang equally penting:

  • Innate Logic
  • Grit, dan niat untuk lanjut terus sampe bener
  • PAAAAAATIEEEENCE… (Menurutku, nomor 3 yang paling penting)

So… Paper Programming?

Staying on topic… jadi, kalau mau ngajarin anak programming, sebenernya ga usah susah-susah pake komputer segala, atau les… ada metode yang lebih simpel, albeit, belum tentu as effective, tapi kepake kok.

Coba minta adik/anaknya untuk sehari/sejam untuk mengerjakan sesuatu seperti komputer, either secara lisan atau ditulis. Kalau anaknya cukup kritis dan mungkin punya logic dan niatnya, and most importantly, sabar… Ada kemungkinan bisa breeze through programming yang lebih kompleks di komputer.

Jadi, kalau mau coba… bisa kan tanpa komputer juga?

In Conclusion…

Muhahaaaa… Muhahahah… Sebenernya, aku kepikiran nulis ini abis salah satu orangtua dari muridku di club programmingku bilang buat practice programming di rumahnya pake paper programming. Which, dengan knowledge-ku (yang ada, seadanya), on the subject, aku jadikan topik ini sebuah artikel…

Conclusionku apa? If you don’t start doing, there’s a chance you might not actually do it at all.

Jadi, daripada repot-repot beli and prep up computer demi anaknya nyoba programming, untuk ngetes tiga skill yang menurutku penting di programmer itu kan bisa pake pen and paper.

Regardless, hope you enjoyed reading! 🙂

Flash Writing: Anxiety of Doing Nothing (A.K.A. Gabut)

Flash Writing: Anxiety of Doing Nothing (A.K.A. Gabut)

Seri Flash Writing ini adalah seri yang aku (Azriel) buat ketika aku butuh tulisan yang selesai dengan cepat… Aku yang sedang berusaha membuat satu post per hari, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi blog ini dengan tulisan, bahkan di hari yang sedikit sibuk. Artikel Flash Writing ini relatif pendek (dibawah 750 kata). Regardless, konten di Flash Writing akan tetap menarik. Enjoy The Article!

Aku sedang dalam fase gabut… Entah kenapa, di hari minggu yang cerah, terus sekarang mendung ini, aku tidak punya ide menulis… Which, ya sudah lah, aku mau nulis apa saja yang bisa dilakukan dalam kegabutan ini…

It all started at 10.00 o clock. Aku buka laptop mau nulis sesuatu… namun… entah kenapa, keystroke yang kulakukan terasa berpuluh-ribu kali lebih berat. Jadi, aku memutuskan untuk googling tentang Dungeons and Dragons, dalam harapan dapat inspirasi menulis sesuatu.

Which unfortunately, I didn’t get anything. Jadi, aku coba pake random topic generator… Nothing… Absolutely nothing… Laptopku pun mati lagi, sampai sekarang, jam 12.30.

Entahlah… kegabutan ini memakan diriku inside out. Jadi aku coba setel musik… Dan aku dapet request dari adikku yang mungil itu untuk setel lagu A Million Dreams dari The Greatest Showman. Dia tetap menyebutnya Alien Dreams, yang terdengar kaya suatu lagu dari DJ yang kayanya rada ga jelas. Regardless, sesudah lagu itu beres, Fearless-nya Taylor Swift main.

Dan aku jadi ingat artikel kemarin, yang kubaca ulang. Saat membaca artikelku kemarin, aku merasa… aneh, dan bingung kenapa aku complain terlalu banyak untuk little things… Berikutnya, aku buka page ini dan memulai menulis artikel ini, dan sesudah mencapai titik ini… Aku merasa… umm… kenapa aku curhat… This seems unnecessary.

But regardless, sesudah mencapai titik ini, aku memutuskan untuk membuat artikel tentang… apa yang bisa dilakukan saat gabut!

Nothing…

No seriously, ga usah lakuin apa-apa, tar juga ujungnya dapet inspirasi dari langit ketujuh mau ngapain. Tapi, jika level gabut, dan anxiety saat ga ngapa-ngapainnya udah rada overkill, baru… bisa cari hal yang lebih produktif daripada… well, nyari cewe cantik di Instagram kaya yang orang-orang suka lakukan.

Clean Up!

I’m not a fan of cleaning up, but seriously though, ini sayangnya hal yang harus dilakukan. Dan dalam kegabutan hari ini, cucianku beres, piring sudah terletak bersih di rak. Dan aku merasa, well, that took time. Untungnya, hasil dari bersih-bersih ini sedikit membantu.

On the other hand… Babah orang yang sangat suka bersih-bersih pas lagi ga ngapa-ngapain. Like, kadang Babah bisa bersihin seisi rumah sambil ngubah layout tempat duduk dalam hari yang ga ada kerjaan. On the other hand, aku ga, jadi yaaaa mau gimana lagi sih… Kayanya emang ada orang yang kalau ga ngapa-ngapain jadi bersih-bersih dan beresin chores.

Read a Book already!

Seriusan… kalau lagi bosen, cobain baca buku. A proper book that you like will (probably) never bore you… Dan kalau baca bukunya yang fun, maka bukunya bakal eat up anxiety-mu… So, yeah, this anxiety of doing nothing can be killed by a book.

Well, aku sayangnya lagi ga ada buku buat dibaca. Terus pas nulis sampai bagian ini baru inget ada komik The Flash yang bisa dibaca berulang kali tanpa kehilangan interest dalam membacanya.

Sayangnya, orang-orang jaman sekarang pelarian bosannya ke HP. Honestly, mau gimana lagi, kadang juga aku gitu sih, tapi aku tetep suka buku. Hanya saja memang ada fasenya kepengen pegang HP.

Learn Something New!

Ini sih kayanya, Babah yang lebih jago. Skill kaya bikin Ocha atau Cold brew di rumah selalu kepake lho… daripada gabut ga ngapa-ngapain, selalu bisa cari skill baru buat dipelajari. Regardless itu skill bikin minuman (Babah, not me), or skill ngebersihin screen laptop dengan proper, atau… even, making a perfect scrambled egg.

Skill kaya gitu pastinya kepake kok, cobain ajaaa!

Write…

Is there anything better than to write your thoughts and emotions?

Of course, kalau lagi bosen, mungkin bisa cari alternatif kerjaan, tapi nulis itu fun lhoooo. Maybe, nulis ga fun buat semua orang, dan belum tentu semua orang bisa nulis dengan kualitas yang sesuai dengan standarnya. Tapi kan kalau ga nyobain nulis, mana tahu? Lagian kalau malu dibaca orang, selalu bisa nulis in a private space kok ;).

Regardless, writing a random subject like this would always help!

In Conclusion

Lots of people beralasan… Aku mainan HP soalnya bosen dan ga ada kerjaan. Mungkin yang harus dicari, alternatif kerjaannya jangan mainan HP, tapi cari kerjaan lain dong…

Regardless, semoga metode ini bisa membunuh kegabutan, dan membuat harimu lebih produktif! Thanks for reading!

Flash Writing: Taylor Swift’s Music…

Flash Writing: Taylor Swift’s Music…

Seri Flash Writing ini adalah seri yang aku (Azriel) buat ketika aku butuh tulisan yang selesai dengan cepat… Aku yang sedang berusaha membuat satu post per hari, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi blog ini dengan tulisan, bahkan di hari yang sedikit sibuk. Artikel Flash Writing ini relatif pendek (dibawah 750 kata). Regardless, konten di Flash Writing akan tetap menarik. Enjoy The Article!

Topik ini (Music in general, bukan punyanya Taylor Swift) deserve jauh lebih banyak daripada sebuah flash writing… Believe me, I really think that music in general is an art that’s somehow gone wrong… Tapi, karena kesibukan dan kelelahan saat sampai rumah dan ingin menulis, for now, musik hanya akan dibahas dalam flash writing. Kayanya ini mild rant… jadi, read with caution, dan tolong note bahwa ini sangat subjektif…

Loncat langsung ke artikelnya saja… Yang akan membahas how music-nya Taylor Swift sudah mulai berlari ke jalan yang benar-benar… salah…

There is no Art in Marketing…

Ada sih kalau mau jadi Martketing, tapi itu campuran broken english and/or maksa…

Take a look at Miss (atau kalau Neneng Alice bilang… Tante) Taylor Swift.

Kalau mau dibahas discography-nya Miss Taylor ini, cukup… in a sense confusing. Even though Taylor Swift menang Album of the Year pas umurnya baru 20 tahun +7 minggu, (pas album keduanya keluar) dia masih mengikuti style musiknya, dan banyak lagunya yang memorable. Until now, aku masih sering denger beberapa lagunya Taylor dari album yang Fearless, like, Love Story, You Belong With Me, and Fifteen. (sorry, taste musikku rada-rada… aneh). Album pertamanya Taylor Swift pun masih punya satu dua single memorable, kaya Teardrops on my Guitar, dan Picture to Burn. (side fact: Aku kalau ga salah denger Love Story pertama kali pas umurku 7 tahun di radio.

Back then, Taylor was a sweet country girl.

Now, please, listen to… “Look What You Made Me Do“.

Musiknya mungkin punya beat enak, tapi… sebenernya, kalau mau ditinjau lagu itu rada-rada… ga bener, dan kayanya dibuat untuk sole purpose ngikutin market millennial yang sukanya sama Electro Pop.

I feel disappointed, jadi, aku mau balik dikit dan buat timeline-y thing ke Album Taylor Swift yang udah mulai (slowly) shift ke Pop.

Album 2010, Speak Now… banyak lagu memorable, kaya Back to December (which is still a sad tune, emosinya masih kerasa banget), dan Begin Again (lagunya terdengar realistis, dan bisa dibayangkan situasi di lagu itu cuma dari mendengarnya). Dear John yang  super panjang itu pun masih enak dan sedih. Kayanya pas Dear John itu purpose lagunya bukan vengeance, tapi emang write emotions down.

Album Taylor Swift yang Red (2012), meskipun makin shifting ke Pop, masih ada country style music, kaya Everything Has Changed (feat. Ed Sheeran), dan bahkan lagu pop-nya masih poetic, dan kerasa feel-nya. Coba juga denger lagu Red, yang musiknya ngikut market 2012 banget, tapi liriknya masih super poetic, dan cara Taylor jelasin masih bagus.

Even pas 1989, track pop-nya masih bagus dan ga cuma ngejar earworm and market, Art-nya masih kerasa, dan lagunya masih bisa kita relate… Like Blank Space and Wildest Dreams… Emotions put onto the song are still heard in the music.

Tapi… entah kenapa begitu Reputation, Taylor Swift masuk ke pool Electro pop dan mengecewakan beberapa fan country-nya. (okay, mungkin masih banyak yang suka, tapi just so you know… I don’t). Look What You Made Me Do sounded a bit like… earworm-y music, put for the sake of following the market, and making profit (and… apparently pas riset 10 menit untuk buat artikel ini, juga buat ngejailin Katy Perry).

I guess, kalau nulisnya buat pour emotion akan lebih bagus, tapi kalau nulisnya lebih buat… ngejailin and teade orang, hasilnya jadi… yaaaaaa gitu lah….

In Conclusion

Music does make Money, tapi jangan lupa bahwa Music in the first place itu art, dan art tidak harus selalu generate money. Art should be able to please its creator as much as it should please others. Bubi pernah bilang ke aku, kalau aku nulis, pastiin kamu nulis buat please dirimu sendiri, karena ga bakalan mungkin please others without pleasing yourself.

Art and music should be just the same… Kalau musiknya dibuat hanya untuk please market, maka ya… with all due respect, mungkin hasilnya sama kaya Look What You Made Me Do di mata orang yang suka musik, dan bukan fan dari artist itu sendiri.

Sure, she’s famous, but… somehow, I feel that there’s something wrong with her music, because she wants to follow the market…

Regardless, note bahwa ini sangat SUBJEKTIF dan OPINIONATED. But anyways, hope you enjoyed the article!

Why You Should Play Board Games…

Why You Should Play Board Games…

Insert Crickety Sounds Here… I really wanna discuss this since December 2017, but I haven’t really put the time to actually do this, so I didn’t… My bad… Anyways, I’m gonna discuss this about now

In the 21st century, course, who plays board games? Wait, a lot of people actually. Hang on, by a lot I don’t exactly mean the majority of people. Because not a majority of people do play board games, but still a lot of people do…

Well, for once, unlike most of my articles on subjects like analog games, for once, I won’t give a single negative commentary about online games, but I would like to highlight more onto the positive benefits of Board Games instead of… “mildly” ranting about the downside of online games.

Regardless, after we finish the setup, let us start the article!

Interaction!

Number 1, of course, Interaction… Should there be a better reason than proper interaction… I mean, Board games are a very good way to interact with others, even if you usually feel awkward when interacting with others.

Why is that? Well, first of all, it’s basically impossible to play a board game with your mouth shut, and it’s also impossible to play a board game alone. Wait, sorry, it’s not exactly impossible, but it’s very tricky, unless you’re willing to play the board game representing the moves of multiple players. (or you bought one of those, Single Player Board Games, which beats the purpose of board games in the first place).

Considering how social interaction diminished over the past few years, playing a board game could somehow force people to interact.

I guess, considering how often I’ve pointed these facts out, I think, we should… move on to the next subject.

Glorious Victory!

Well, this applies most for competitive board games, but in cooperative ones, this could effectively be applied as well. Winning any game is a fun thing, but imagine winning something in a face to face condition, and doing the whole job of winning yourself, and most importantly, you get to win some bragging rights!

Okay, don’t brag after winning something that’s a bad habit… it really is. But seriously though, winning something in an immediate and direct face to face environment does give you that sense of satisfaction.

When it comes to cooperative games, beating the game itself also gives you satisfaction. More importantly, the satisfaction granted is shared, especially after beating a game that’s hard like… for instance… Pandemic, Call of Cthulhu edition. Winning that game is one achievement… Because of how hard and tricky that board game is. You should try it out in Hard Mode, and I’m seriously going to wish you luck, because… Hahahaha… Just… good luck… It’s so hard to beat.

Calculation… and Stuff

Count and calculate every move and action. Make sure that you don’t miss a single move. Don’t do that, I fear a misplay. Unfortunately, the dice roll failed…

Well, this is more of a benefit instead of the reason someone plays a board game, but believe me, board games help you calculate stuff. Just, pray you’ll do a decent dice roll, or just play a game that doesn’t involve Random Number Generation. A properly calculated action and turn, would indirectly teach you how to deal with the same situation in real life.

Of course, sometimes board games don’t even involve calculation, in that case, I welcome you to skip onto the 5th reason to play board games. But, if you’d like, you can read reason number 4 first.

Tension!

Because of its face to face nature, tension among board games are felt much more than it would be in other types of games. It isn’t rare for me to stand up and panic during climax moments, fearing that someone will throw an evil trick, or… just basically get beaten…

That tension each time you take a turn, or someone throws out something that messes up the game flow amplifies the fun, and trust me… this is something you won’t get in an online game. This tension can only be found in real life situations, because without being in the presence of something else, the tension would be converted onto something that’ll piss you off…

On the bright side, this tension also adds up to reason number 2, which means… you’ll be more satisfied with your victory when you play a tense game!

ULTIMATE REASON: FUN!

Really… I don’t need another reason to play board games. Board games are fun, and in a sense, they can be as fun as any other game on earth… Well, the taste and definition of fun board games are different per person, but almost most games can be deemed fun when played together with your friends and family.

Any board game can be fun, if you see it as such…

In Conclusion

Concluding this article, there shouldn’t really be much more reasons for you to play a board game rather than number 5. In addition to that, you would need friends to play board games with, and also, the more options that you can choose from… the better…

Now, problem is, board games are expensive, and then the next one is, sometimes, not all your friends and family enjoy playing board games… so… should that be a reason to not play board games?

NOPEEE!

Fortunately, there’s many places that appreciate board games and open up a board game playing session, such as language courses to help teach the language as well. Sometimes, there are also events like a playtime or a playday to play board games in. There’s also the option to go to a board game cafe and play with other visitors of the cafe, with the coach/gamemaster to teach you…

Without any endorsements or whatever, a Board Game cafe I visit pretty often just reopened at Sidomukti. Its name is Shuffle ID, and you should try and visit there! It’s a very fun place, and there’s tons of board games to choose from, with only 30K rupiah of an entrance fee!

Anyways, it wasn’t an endorsement, just… as a regular, I want to help promote that place… It’s a wonder how places like Shuffle could provide a second home, or just, Board Game Heaven for people who enjoys playing Board Games, like for instance, Bubi and me!

*picture above is a pic of Bubi playing at Playtime Guy with the glasses and blue shirt, is NOT me

Infinity Stones!

Infinity Stones!

Pada tahun 2018 ini, hal terpenting bagi para fanboy Marvel adalah… 6 Batu Warna Warni yang lokasinya masih rada-rada ga jelas ini lho… Although Infinity War baru mau keluar Mei 2018, abis Black Panther keluar, HYPEEE dari batu-batu ini melonjak… Kenapa?

Well baca yuk!

Spoilers Ahead for, nearly every Marvel Movie that’s featured an Infinity Stone, and some of those that don’t feature one. As Usual… “Be As Cautious As The Black Panther” (As Zuri)

Anyways, aku mau sedikit minta maaf artikel terakhir dan ini Marvel Related, aku setengah gabut dan lagi cari-cari ide gara-gara sempat sakit, jadi mau nulis yang ringan-ringan and rada fun aja… Regardless, besok ada artikel tentang board game! (atau lusa, tergantung sempet gak-nya)

Gara-gara Black Panther, Internet meledak dan bingung…

Kenapa ga ada Infinity Stone???????? MARVEL ngerahasiain lokasinya batu keenam… KENAPAAAAAAA… Kurang lebih itu most visited thread di Fandom Wikia-nya Marvel. Fanboy yang ngevisitnya sama juga kaya aku ga ada kerjaan… jadi banyak bikin teori mengenai tuh lokasi batu-batu akik ini.

Wait, kalau bingung napa disebut Batu Akik, liat foto Thanos.

Nah kan, dipakenya di tangan kaya orang-orang make Batu Akik, bahkan Thanos dah nyiapin tuh 6 slot cincin satu buat masing-masing batu akik.

Anyways, let us get on to the actual point of this article!

Infinity Stones!

Alkisah, para dewa tua, yang menciptakan universe Marvel, membuat dunia ini dengan batu rada besar (wait, kalau dibandingin asteroid kecil), sorry, dengan batu kecil… (hang on kayanya ga kecil-kecil amat deh…), ralat terakhir, dengan batu yang ukurannya relatif kecil atau besar, tergantung perspektif, dan warna warni.

Nah, karena dewa tua ini mirip dewa-dewi Yunani, mereka paranoid barang-barang mereka digunakan untuk hal-hal jahat, jadi mereka membelah batu ini jadi 6 batu berbeda, dan di sortir berdasarkan warna. Masing-masing batu mereka lempar ke entah belahan mana alam semesta, dan dipisahkan dengan harapan tidak mungkin disatuin lagi.

Sebelum ngebahas batu-nya, kalau 6 Infinity Stones itu disatuin lagi, kurang lebih yang megangnya punya kekuatan menciptakan universe lain, kaya para dewa pencipta alam semesta ala marvel telah lakukan… Which… umm… kayanya Marvel akan berubah ke level kereseannya DC urusan Multiverse lagi… dan semoga itu ga terjadi…

So, aku mau bahas tuh Batu Akik gaib satu-satu, dan kurang lebih Batu Akik-nya bisa ngapain!

Sebelum kesitu, kalau di komik, namanya bukan Infinity Stones, tapi Infinity Gems, di film diubah jadi Infinity Stones karena Thanos mau dianggap lebih kece dari kolektor batu akik di Indonesia… JENG JENG! All this time, villain terbesar MCU saingan terbesarnya adalah kolektor Batu Akik di Indonesia yang punya batu warna-warni.

Sayangnya, sekarang Batu Akik ga ngetrend lagi, jadi mau gimana lagi atuh… Thanos dah repot-repot ngeganti namanya, terus sekarang mau dia megang Batu Akik, atau Batu Mulia, gagal ngikut trend… Kasian deh…

Sorry, on topic! Infinity Stones!

Tesseract/Yang warnanya biru/Space Stone

Kalau pusing nginget which is which, tuh lah ya pokoknya, yang warnanya biru.

Batu Akik yang ini kurang lebih bisa memanipulasi ruang, dan dengannya, dia bisa ngasih kita akses ke dunia lain, atau kalau mau ditaro dalem nutshell, Space Stone itu punya fungsi buat teleportasi. History Tesseract ini sangat panjang… mungkin lebih panjang dari… entah apa, pokoknya rada panjang dan rese… Padahal powernya Tesseract cuma… Pintu Kemana Saja! Yang bisa di substitute Doraemon…

Pas Captain America: First Avenger main (which aku belum pernah nonton dari awal sampai akhir karena pas ada di bioskop aku belum cukup umur buat nonton, dan pas ada di TV, aku ga nonton sampe beres), Tesseract kelihatan pernah ngeteleportasi si Red Skull, tapi waktu itu, masih rada ga jelas kenapa dan bagaimananya.

Pas The Avengers main, on the other hand, Loki udah memperjelas bahwa si Tesseract/Space Stone ini bisa membuka gerbang ke tempat lain, which digunakan untuk memanggil makhluk dan prajurit dari Chitauri I, untuk kurang lebih merusak bumi, tapi intention pastinya aku lupa, intinya Space Stone ini bener-bener diharness power-nya pas Avengers, karena dia successfully membuka gerbang, sama persis seperti tujuan utamanya. Membuat ruang dan memindahkan hal (untuk ditaruh ke tempatnya) pas Universe ini dibuat.

Sesudah Avengers, Tesseract sendiri disimpan kembali ke tempat dia diambil in the first place, Asgard, kayanya para dewa tua mempercayakan Tesseract ke Odin dan Asgardian lainnya. Dari knowledge ku mengenai Norse Mythology sendiri, Asgard mungkin tempat yang cukup buruk untuk menaruh batu itu, karena… welp, seriusan, Asgard, Loki tinggal disitu, sebelum dia diusir. Di Asgard versi Norse myths, Loki usil, dan suka iseng-iseng pegang dan colong ini itu.

Now, to make things worse, ide-nya para Dewa tua ini backfire pas Thor: Ragnarok. Asgardnya (safe haven si Infinity Stone) hancur sama Surtr, dan saat Surtr dihidupkan Loki, Loki juga iseng dan comot tuh Tesseract, terus dia  bawa ke Spaceship bareng Thor. Jadi, untuk sementara lokasi Batu Akik biru ini cukup jelas…

Tapi, pas Secret Ending Thor: Ragnarok, kapalnya Thor dihadang oleh spaceship raksasa, which honestly masih ga jelas siapa yang didalemnya, kayanya sih Thanos… But who knows, maybe it’s the U.S.S. Enterprise… Wait no, beda film.

Orb/Yang warnanya ungu/Power Stone

Batu Akik ungu ini bisa dianggap yang paling destruktif kalau mau dibahas raw power-nya.

Lokasinya sejak pertama direveal masih sangat jelas karena belum ada yang colong-colong ini batu. Sepanjang history MCU baru ada satu orang (or precisely, Alien) yang pernah harness kekuatannya. Ronan The Accuser asal Kree, khusus ngambil batu ini hanya demi hancurin Xandar, karena Ronan ga ada kerjaan.

Ronan sendiri ngambil batu ini pas film Guardians of The Galaxy yang pertama, dan cuman dengan sekali slam palu-nya dia (yang ditempelin Power Stone). Planet Xandar udah kaya kena gempa 12 Richter…

Power Stone sendiri kekuatannya purely ngasih usernya infinite amounts of power, tapi kalau power ini ga dicontain dengan benar, maka ya… gitu deh…  kemungkinannya, kaya ledakkin Bom Nuklir dalam gedung kecil. Ledakannya masif banget, dan semua orang didalemnya mati, with potential deaths ke orang-orang yang diluar bom itu juga.

Nah, pas Ronan kalah sama Guardians dengan cara… umm Chris Pratt joget dan dia ditembak rakun yang dimainin Bradley Cooper, batunya diambil sama Star Lord, dan diamankan ke pemerintahan Xandar. So far sih, masih belum ada revelation apa-apa mengenai batu itu di film marvel lainnya.

Jadi, kayanya untuk sementara, Power Stone ini sementara aman.

Aether/Yang warnanya merah/Reality Stone

Awalnya aku bingung kenapa ada Reality stone dan, Space Stone karena in a nutshell, powernya sama-sama aja…  But it’s not, apparently it’s different… Anyways, Aether ini mungkin infinity stone favorit Bubi karena warnanya merah… Oh, dan Aether ini cair, jadi mungkin bisa dibilang Infinity Liquid instead of… stone…

Reality Stone ini, kalau tadi Space Stone bisa teleportasi dalam satu dimensi yang sama, Reality Stone ini bisa distort reality di dimensi ini, dan jika diharness dengan benar, bisa digunakan untuk teleportasi ke dimensi lain. Pas Universe ini diciptakan, Aether sendiri fungsinya untuk form reality, dan memastikan dimensi ini yang paling stabil. Kalau dimensinya ga stabil, kemungkinan besar, multiverse bisa fall apart kalau kena power dari Infinity Stones yang lain.

Since, kayanya Aether itu berperan cukup penting di penciptaan dimensi, String Theory, yang membahas multiverse juga kurang lebih ga beda jauh sama peran Aether di Marvel Universe. Fungsinya Aether buat create space yang bisa distabilkan oleh hal lain, dan persamaan real life-nya di String Theory juga mirip-mirip.

Kalau aku jelasin String Theory kayanya kepanjangan, tapi Intermezzo aja, String Theory itu teori yang ditemukan di mejanya Albert Einstein sesudah beliau meninggal, dan teori itu membahas strings yang menciptakan dimensi saat string/benang itu bergetar. Setiap getaran string balance out each other, dan membuat multiverse yang stabil.

Pas Thor: The Dark World main, Malekith iseng-iseng mengubah getaran benang-benang (or Dimensi), dengan Aether. Gara-gara Jane Foster ga sengaja nemuin ini Aether, Malekith bisa ngakses Universe Marvel dari Dimensi dia yang lebih dark. Alhasil… Ya, aku sebenernya ga nonton sampe beres sih… issue rating dan TV lagi… Tapi, kurang lebih Aether ini perannya di The Dark World mirip dengan Tesseract di Avengers.

Bedanya, yang satu manggil Alien dari dimensi ini, yang satu manggil Dark Elf dari dimensi lain.

Pas Secret Ending The Dark World, lokasi Aether ini ada di The Collector, karena menurut Asgardian yang menjualnya ke Collector, seseorang yang terlalu kaya dan ga ada kerjaan, tapi sampai sekarang aku juga ga tahu duitnya dia dari mana. Aether ini masih ada di Collector, karena menurut orang Asgard (dan simple reasoning, seriusan, jangan taro 2 bom di tempat yang sama), punya 2 Infinity Stone di tempat yang sama itu bahaya.

Scepter/Yang warnanya kuning/Mind Stone

Well, Mind Stone ini sebenernya udah ada sejak Loki nongol sambil bawa tongkatnya. Tapi ga ada yang tahu isinya Infinity Stone. . . (Warnanya kuning kok dalemnya, liat Vision tuh)

Mind Stone ini punya kekuatan untuk menciptakan consciousness, atau mind control. Yeah kurang lebih gitu doang. Tapi, coba bayangin sih, kalau ada sesuatu yang punya infinite thought dan consciousness, apa yang bakalan terjadi… Kayanya rada-rada gawat sih, tapi batu akik yang satu ini, sekarang di tempat yang relatif aman…

Originally, Mind Stone ini digunakan untuk craft consciousness di makhluk-makhluk ciptaan para dewa-dewa yang batch pertama. Mind Stone ini juga digunakan untuk memberi knowledge dan logical thinking ke orang-orang tersebut. Alhasil, orang-orang yang diciptakan ini bisa mikir… (YEAY! Sherlock sukses solve the case!)

Pas Age of Ultron, orang-orang baru tahu bahwa lokasinya si Mind Stone ini selama ini ada dalam Scepter/tongkatnya Loki. Pas Tony Stark iseng-iseng buka dan cari tahu apa isi tongkatnya Loki, Ultron udah tahu dari kapan tahu apa isinya, dan dia ambil Mind Stone-nya, hasilnya jadi… Makhluk bernama, Vision.

Well, Vision udah pernah nongol di beberapa film lain, dan gara-gara Mind Stone ini, dia jadi incredibly wise dan smart. Selain itu, source semua powernya Vision juga dari Mind Stone. Tapi yang aku rada-rada ga ngerti, gimana Mind Stone bisa membuat seseorang nembus tembok. Tapi, mungkin nanti dijelasin.

Sayangnya di Trailer Avengers Infinity War, Batu Akik di jidad-nya Vision di tarik paksa sama Thanos… Mari berharap ekstraksi Batu Akik-nya Thanos ga bakal sebrutal itu.

Eye of Agamotto/Yang warnanya hijau/Time Stone

Kalau ini Batu Akiknya dipakai sebagai kalung sama Doctor Strange.

Sebenernya posisinya disitu terus sepanjang film Doctor Strange, selalu di Sanctum Kamar-Taj-nya para Wizards. Kayanya dari zaman dulu juga posisinya disitu terus. Disimpan dalam kalung, untuk diputar-putar dan di harness kekuatannya, agar bisa memanipulasi waktu.

Time Stone ini bisa menciptakan waktu, mengulang loop waktu, mereverse waktu sebuah objek, memajukan waktu sebuah objek, atau merewind suatu event. Basically, kalau kamu kelewatan suatu episode serial dan ga tahu apa itu Torrent, atau VOD, maka… simply, request Doctor Strange buat rewind waktu biar kamu bisa catch up.

Eye of Agamotto sendiri masih rada ga jelas cara harness-nya, apakah perlu skill sihir, atau perlu converter (in this case Eye of Agamotto yang nutupin batunya) buat mengakses kekuatannya, atau perlu magic words or something…

Tapi, Eye of Agamotto ini belum boleh diambil Doctor Strange pas filmnya beres. Since, according to Wong, dia belum siap, jadi belum boleh megang Infinity Stone. Tapi… pas Thor: Ragnarok dan dia ketemu Thor, dia sudah pakai kalung itu full time, so… who knows?

Anyways, karena Time Stone-nya sendiri belum pernah kelihatan diluar Eye of Agamotto-nya, aku masih ga tahu apa dia bisa berfungsi tanpa trinket mata ini, dan andaikan dia bisa, gimana hasilnya…

Soul Stone/Yang belum nongol, tapi warnanya oranye…

Jadi, fans Marvel (including me) bingung abis nonton Black Panther. Banyak orang yang ngira bahwa, Soul Stone ini bakalan keluar pas Black Panther, karena Mystic-nya Wakanda masuk akal buat incorporate Soul Stone.

Soul Stone ini masih belum pernah di reveal sekalipun, tapi banyak teori, dan sebenarnya mungkin aja masih di Wakanda, tapi ga ditunjukkin directly.

Aku ga mau bahas banyak teori rese, tapi aku mau bahas dua saja yang paling mungkin, satu ada di Heimdall, Guardian of Asgard, dan satu lagi, ada di Wakanda tapi ga ditunjukkin.

Orange Eyes…

Teori yang bilang ada di Heimdall itu cukup simpel. Ada fan yang denger bahwa Heimdall selalu mengucap kata Soul kalau dia merefer ke seseorang yang dia lihat, dan dia juga ngeh ada jewel warna Oranye (kaya matanya Heimdall) di armor-nya Heimdall. Jadi dia nambahin 1+1 dan dapet 2!

Mungkin Heimdall bisa merasakan jiwa orang-orang karena Soul Stone di armor-nya dia. Power Soul Stone di Marvel Cinematic Universe sendiri belum clear, tapi fungsi Soul Stone adalah menciptakan jiwa dan perasaan orang-orang, kalau manipulasi jiwa aku ga yakin, tapi intinya apapun yang korelasinya dengan faith atau feeling, kayanya berhubungan dengan soul stone.

Downside dari teori Heimdall ini adalah, berarti orang Asgard sebenernya punya 2 Infinity Stones, satu Tesseract, dan satu lagi Soul Stone. Which, dua batu akik tidak boleh berdekatan, itu berbahaya!

Wakanda!

On the other hand, orang-orang yang bilang ada di Wakanda percaya itu belum ditunjukkin. Karena Soul Stone juga bermain ke daerah mistis, dan Wakanda itu technologically advanced place yang masih respect banget sama old cultures (if only culture doesn’t get eaten by technology… sigh), orang-orang percaya, Wakanda bisa peaceful hanya gara-gara Soul Stone ada di tempat yang hidden by government inside Wakanda.

Terus, Heart Shaped Herb ala Wakanda ini juga ngasih orang yang memakannya beberapa menit untuk mengalami kontak dengan jiwa-jiwa pemimpin yang sudah mati. Mungkin ini terjadi gara-gara Soul Stone yang menghubungkan realm jiwa dan reality.

Teori Soul Stone dimana ya… tebak-tebakan ya, ku tak yakin. Karena masih ada yang bilang itu ada di Ant Man, tepatnya realm Quantum-nya.

So… Infinity Stones?

Artikel ini mungkin ngasih headache dikit, tapi untuk lighten up thought, 12 jam yang lalu, baru saja ada tweet-an baru dari seseorang yang bekerja untuk Marvel, menjelaskan kenapa Infinity Stones ini source dari Infinite Power…

Liat saja infografis-nya ya… (it’s in English… btw)

In Conclusion

Okay, ini tulisan santai, tapi berbobot, kuharap tiada yang bingung mengenai wishlist Thanos untuk punya koleksi batu akik paling kece senusantara, tapi kurang lebih kalau mau di conclude…

Setiap batu adalah sebuah philosophical thought dari sesuatu yang ga mungkin bisa bertahan sendiri…

  • Apa artinya Mind tanpa Soul? Mungkin kamu pinter, tapi kalau kamu ga punya jiwa, maka kamu ga punya empati, dan terkesan heartless.
  • Apa artinya Soul tanpa Reality? Course, kamu orang yang faithful dan baik, tapi kalau kamu ga bisa look back onto what’s real, mungkin kamu akan lost, dan terlalu membela kepercayaanmu.
  • Apa artinya Reality tanpa Time? Serealistis-realistisnya orang, kalau dia tidak mau meluangkan waktu untuk mendefinisikan realita-nya itu (seberapa pahit reality itu), maka dia ga bakal bisa membuat dampak apa-apa ke realitas.
  • Apa artinya Time tanpa Space? Seberapa banyakpun waktu yang kita miliki, kalau kita distance ourself from others, maka… mungkin kamu lost in time, dan hilang dalam kesibukan dirimu sendiri.
  • Apa artinya Space tanpa Power? Well, mungkin kamu bisa dekat dengan orang lain, dan ga buat distance dari orang-orang… Tapi, kalau kamu ga punya kekuatan (be it political, or, physical), maka kamu mungkin dianggap ga ada nilainya sama orang-orang itu.
  • Apa artinya Power tanpa Mind? Itu berarti kamu orang yang bertindak semena-mena, dan punya power yang cukup banyak, tapi… kamu ga mau stop untuk berpikir tindakanmu akan affect orang lain atau gak…

Jadi, manusia itu kaya Infinity stones, kita ga mungkin bisa menjadi manusia yang baik sampai kita bisa mendekatkan diri kepada enam aspek ini, dan hanya punya satu dari enam ini masih mungkin ga sukses. Sama kaya semua Villain yang megang Infinity Stones sebelum Thanos… Cuma dengan satu, mereka gagal, karena mereka melupakan 5 value yang lain.

Makanya… ingatlah semua value yang menurutmu penting, dan balance it out…

Regardless, bye, and thanks for reading this long article.

Flash Writing: Vibranium Vs Adamantium

Flash Writing: Vibranium Vs Adamantium

Seri Flash Writing ini adalah seri yang aku (Azriel) buat ketika aku butuh tulisan yang selesai dengan cepat… Aku yang sedang berusaha membuat satu post per hari, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi blog ini dengan tulisan, bahkan di hari yang sedikit sibuk. Artikel Flash Writing ini relatif pendek (dibawah 750 kata). Regardless, konten di Flash Writing akan tetap menarik. Enjoy The Article!

BLACK PANTHER SUDAH MAIN!!! HYPEEEEEEEEEEEEEEE.

Okay, just kidding 😜

The movie is incredibly good. Tapi, aku mau menulis sebentar untuk sedikit menjelaskan Vibranium.

Spoilers ahead… Be as cautious as the Black Panther (spoken in Forest Whitaker’s voice as Zuri)

Strongest Metal In Marvel?

Jadi, aku sudah pernah mendengar orang komplain… Perasaan, Vibranium itu ga sekuat Adamantium deh, dan masih bisa dirusak. Kenapa katanya strongest metal on the Universe? Or the other way around kalau dia fanboy (or fangirl) Captain America instead of Fangirl Wolverine.

Jadi, sebenarnya jawaban fanboy Marvel Cinematic Universe yang males adalah… “Oh, itu beda universe, kalau Vibranium itu Besi terkuat di Earth-1, Adamantium itu besi terkuat di Earth-616”. Really? “Fanboy” itu kemungkinan kurang riset, karena di Earth-616 juga ada yang namanya Vibranium, yang ga ada (atau belum ditunjukkin) itu, Adamantium di Earth-1.

Dua besi itu ada perbedaan, dan beda jenis chemical component-nya. Benar-benar memusingkan, percaya sama aku… Tapi, sebenarnya perbedaan Adamantium dan Vibranium itu bisa ditemukan di Pelajaran Kimia SMP Kelas 1. Which by now… I’m certain that you’ve already forgotten.

Mungkin reader inget tabel yang disegani orang-orang. Namanya Tabel periodik. Which sebenernya ga terlalu rese juga kok… Tapi, di dunia Marvel, Tabel periodik itu akan sedikit membantu penjelasan.

Vibranium.

Apa itu Vibranium? Well, dalam dunia nyata, yang boleh dimasukkan dalam Tabel Periodik tuh hanya unsur. Literally, that’s it. Unsur. (Kalau masih inget, bagus!). Unsur sendiri biasa disebut Element di bahasa Inggris.

Nah, dalam Dunia Marvel, Vibranium ini adalah unsur yang jatuh ke Wakanda.

Vibranium memiliki contents yang ga masuk akal sih, karena dia bisa jadi source energy (belum ada metal yang bisa jadi source energy, kecuali radioaktif), materialnya borderline indestructible (Umm… Kalau bisa jadi energy, kenapa dia indestructible? Bukannya energy perlu di harness dari hal yang disposable atau bergerak? Or at the very least, radioactive material) Fleksibel, (uhh jadi dia indestructible dan fleksibel… Okay), dan yang paling tidak masuk akal… Dia gak radioaktif. . . . . Uhh, let’s let the die-hard fanboys defend Marvel’s Pride…

But anyways, Vibranium ini memang material yang sangat tidak realistis, dan sebenarnya sangat unlikely untuk ditemukan di real life, jadi, jangan ngarep bisa nemuin Frisbee-nya Steve Rogers yang benar-benar indestructible.

On the other hand… Bingung ga kamu kalau aku mau coba jelasin Magnetism-nya Vibranium ini?

Sampai sekarang aku bingung apakah Vibranium itu punya magnetisme atau gak… Soalnya, di Age of Ultron, Frisbee-nya Captain America bisa dia tangkep pake magnet di tangannya. Dan magnetism di Vibranium… Kurang lebih jadi makin ga masuk akal…

Anyways, for mild thought saja… Pas di Black Panther kemarin, Shuri bilang bahwa Vibranium sendiri punya some sort of magnetic attraction dan bisa di non aktifkan energy dan explosive-nya, kalau diberi elektromagnet. Makanya Vibraniumnya bisa ditransport via kereta secepat Shinkansen.

But anyways, itu mah food for thought saja, berikutnya kita bahas Adamantium…

Adamantium

Adamantium sendiri diambil dari kata Adamant yang artinya kurang lebih… Keras kepala, atau susah sekali diubah thought-nya. (or according to Marvel’s official site… Metal Ajaib ala Greek Myth namanya Adamantine, tapi etimologi namanya ga beda-beda jauh)

Nah, Adamantium ini memang sangat-sangat keras, dan teksturnya borderline indestructible. Jadi naming dari marvel untuk besi ini sangat sesuai…

Tapi banyak orang yang keliru. Orang banyak sekali mengira bahwa Adamantium juga unsur, dan murni hanya terdiri dari atom Adamantium saja… Which is wrong… Adamantium adalah Compound/Senyawa…Which, seperti diajarkan di Kelas Satu SMP (Kayanya dah lupa :P), Senyawa terdiri dari 2 atau lebih jenis atom yang menempel dan membuat zat baru. Contoh paling sering diencounter dalam day to day life kita, adalah H20, atau Air…

Komponennya sendiri terdiri dari… Umm… Official site marvel ngejailin visitornya… maaf. Satu-satunya image yang ada adalah file classified dipegang oleh Stryker, tapi ga dibuka. Jadi, aku ga tahu kontennya apa…

One thing for sure is, salah satu bahan untuk membuat Adamantium adalah Vibranium… dan sebagai fakta tambahan, Adamantium mesti diproses dalam kondisi cair, pasnya dengan suhu 1500 Derajat Fahrenheit. Kalau udah padat, Adamantium ga mungkin bisa diubah lagi, dan alhasil, hanya boleh digunakan atau diproses dalam kondisi mendidih. Kalau gagal dan ada kesalahan proses ya… gitu deh, paling orang yang ketumpahan Adamantium nyangkut dan ga mungkin bisa lepas.

Jadi, dearest Fanboy dan Fangirl yang kepo dan baca, dua besi itu beda jauh…

Vibranium itu Element, Adamantium itu Compound. As simple as that…

In Conclusion

Reader ngeh ga bahwa ini tuh sebenernya pelajaran kimia?

Kalau bahkan anak 15 tahun bisa ngepresent cara yang menarik untuk mengajarkan orang-orang pelajaran yang dianggap sedreaded kimia (aku masih ingat beberapa complain-an teman-temanku), kenapa guru ga bisa?

Masalah utama dari edukasi bukan apa yang diajarkan, tapi lebih ke cara mengajarkannya.

Kayanya kebayang ya kalau pelajaran kimia bisa dikemas dalam cara ini, pasti ga bakal dianggap bosen…

Regardless hope you enjoyed this article, see you soon!

So… Social Media

So… Social Media

Oh dear… I’m very worried about this subject… And I have to tell you… You should be worried too. Well to be fair, this is something that is borderline unavoidable for mankind, just like how we’ll be extinct because of viruses… (I’m kidding, we’ll be killed by Artificial intelligence, not viruses…)

As far as I know, most people who owns a smartphone owns at least one social media account (unexpectedly, including my grandmother), and I have to tell you, just by getting a glance of somebody sitting next to me queueing in a hospital, I’m just astounded at how people can be so open to a bunch of strangers on social media.

To be fair, I have (almost) nothing against social media, and both of my parents are active and have a decent amount of followers and friends in Instagram and Facebook respectively. The only thing that I’m disliking about social media is how my mother posts about me in her account, without my permission… Even then, it’s not the social media that I’m against, it’s how she doesn’t ask for my permission… (What she posts about me is out of subject, not discussing that)

My Experience With Social Media

I used Facebook when I was 10-11… And I used Facebook to play games.

What? You thought there was gonna be more? Of course not! 😅

Just as an FYI, my account isn’t deleted, I don’t care about it, but it’s last activity is about… 2-3 years ago I guess? Before Social Media even has that much users.

#unbelievable

I sometimes can’t believe that there’s a person on earth who would even do things like this.

About 15 minutes ago, when this event happened and it gave me inspiration for this article… I saw a person sitting right next to me, in a hospital. Instagram Story-ing (not a word, hopefully it doesn’t become one) the queue and surroundings of the registration… Room?

Anyways, that just straight out sucks… For the following reasons of course…

  • What’s the purpose… (No seriously, what on earth could the purpose of someone doing this be)
  • A Revelation In Location… A girl (presumably in college) just revealed her location… This isn’t that bad if you’re not a kind of paranoid person, but this isn’t good as well.
  • Waste of time… (Let’s leave it at that)
  • Remind me again… who would care? (Don’t say or think, her friends of course people wouldn’t care about a picture… If you want people to sympathize for your sick mother, make a WhatsApp broadcast, not an Instagram Story)
  • Umm, any uses? Like I said, if you want someone to give you moral support or sympathize, there are other options, broadcasts in WhatsApp groups, talking in person, have your significant other calm you down, or whatever… An Instagram story is probably the least effective (read: no effect at all)

I could go on and on and on… But I don’t want to sound too annoying… So let’s just get on ahead to the main problem of social media…

 Usage…

That, my friends, and dearest readers… Is the main problem with social media… 😅

If you think usage alone isn’t enough of an explanation, then let’s describe it more.

Social Media is a great thing! It really is, it helps you connect with the world, it also helps you get some funny jokes, and some fun facts presented in infographics, plus information for discounts and promotions.

You could also use it to sell stuff, and promote some of your own stuff, and more stuff related with the word stuff, because I don’t actually know what people sell in Social Media, so I just use the word “stuff”.

On the other hand, people overabuse it, sharing TOOOOOOOOO much of their personal lives there (which I’m not entirely against, if you’re really that open, your loss), using it to passive-aggressively pressure people who is having a conflict (I’ve heard of real life cases… Believe me, I HAVE, and it’s… Something that makes my face look like… 😐😐😓😓😨), now comes the part where people absorb too much information in a glimpse of an eye… I’ll go on a wee bit in the next part.

Too Much Info…

It’s a bad thing… It seriously is…

Within the last 20 years, the Human race have lost 33% of their attention span. And our attention span has become lower than the attention span of a goldfish.

So, if you’ve heard the saying, as ignorant as a goldfish, I think we should correct that as ignorant as a millennial.

Why is this happening? Well, for starters, too much information is the main source. Info flows too quickly, and most millennials fear that if they don’t keep up with the latest and best news, they fear they won’t be accepted in their social circles or whatever…

And now comes the 2 words I set to bold…

Latest and Best news, or info, the best news is relative of course. Some people think that a new encryption algorithm discovered is a very good and worthy to share news. While other people might think that the biggest news of the day is the fact that One Direction just broke up… (Okay, that’s indeed a sad thing, at the very least we have 5 solo artists now… [I just found out they broke up when I heard Harry Styles’s newest single, so I’m slow on news]).

Edit: Apparently that wasn’t Harry Styles, it was Niall Horan.

Now in terms of latest, Social Media somehow presents info in a very streamlined and easy to access way. This in itself… Is as bad as Michael Jackson’s “Bad” for our attention span.

Why? An overload of information and just how our generation behaves in general is a terrible match up.

Let’s see… We want the latest, “favourite” most trendy news.

Now, in terms of getting the latest news from social media (or any news portal in general), that can easily be done by scrolling up and refreshing. But what is hard is… getting that best news.

They (millennials) want something that can be a discussion topic amongst their friends. And… If they fail to find it, probably they’ll be disappointed, or they’ll follow with whatever their friends found. This is why they must rapidly move and find something interesting within the caps of their attention span (FYI, it’s 8-9 seconds), and probably, in an article, it’s either a clickbaity title, or a clickbaity first paragraph. Good luck with that.

Social Media and News

Now, why am I correlating, news between social media?

Social media and news are essentially the same thing. Only, they have different functions and content writers.

The news are written by reporters whose job is to present news, and their entire job revolves around it, and although the news contents are in a sense, degrading (later story… Patience yound squire), they’re not 100% trash.

On the other hand, the contents of social media is written by essentially everyone who uses social media. Which means, the contents may include whatever People would want to write, regardless of how trashy or useless their contents is.

So, I’m guessing this should be enough for you to conclude onto how social media should be used. I’m not concluding anything, since I’m not a user, and hopefully, I never will be a user…

In Conclusion

Use things accordingly.

Yes my conclusion is no more than a 6 syllabled word.

Whatever that is, don’t abuse it, and use it according to its original purpose.

Social Media is made to connect with people, not brag that you’re in a holiday, or showing everyone you just bought a new… (What do they post in social media again?) Or perhaps at the very least, just use it accordingly.

Regardless hope you enjoyed this article!

Also a short comic from Sarah C Andersen for the laughs, just before we close the day…

Flash Writing: Paradoks…

Flash Writing: Paradoks…

Seri Flash Writing ini adalah seri yang aku (Azriel) buat ketika aku butuh tulisan yang selesai dengan cepat… Aku yang sedang berusaha membuat satu post per hari, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi blog ini dengan tulisan, bahkan di hari yang sedikit sibuk. Artikel Flash Writing ini relatif pendek (dibawah 750 kata). Regardless, konten di Flash Writing akan tetap menarik. Enjoy The Article!

Dearest Reader…

Pernahkah kamu mendapatkan momen-momen atau situasi yang terbilang tidak ada solusinya? Well, step right up! Situasi yang tidak ada solusinya itu disebut paradoks… Which, kadang pop up dengan sendirinya, namun… umm ya gitulah… Kadang kita akan dapat headache 100 putaran kalau berusaha solve paradoks…

Sebelum beneran masuk ke  konten artikelnya, Paradoks sendiri mempunyai definisi yaitu sebuah masalah dengan solusi atau hasil yang kontradiktif dari harapannya. Tapi itu akan membingungkan orang-orang… Karena kenyataannya, paradoks yang membuat kepala pusing itu… bukan yang punya hasil kontradiktif, tapi yang tidak ada hasilnya sama sekali, atau terlalu banyak hasil hingga orang-orang tepar berusaha solve-nya.

Sebelum masuk ke artikelnya sendiri, sedikit cerita… Setelah sekali saja menyebut kata paradoks ke guru pramukaku… Dan menjelaskannya… Aku langsung dapat nickname Paradok… Yes, without the S… Paradok doang…

Regardless, artikel ini berisi cerita-cerita yang berisi atau berhubungan dengan paradoks…

DISCLAIMER: Artikel ini akan memutar-mutar kepalamu sebanyak sebuah mobil Bugatti Veyron memutar-mutar mesinnya. Good Luck!

Pay Attention… To Yourself

Ada saat dimana aku dan teman-temanku menciptakan paradoks secara tidak sengaja… (okay, sebenarnya aku doang sih, tapi kalau aku ga diajak ngobrol, paradoksnya ga jadi)

Kurang lebih ini yang terjadi… And FYI nama disensor karena… aku belum (read:ga bakalan) minta izin masukkin nama mereka…

  • Teman 1: Lusa mau magang di booth deket Taman Lansia, udah tahu mau dimana?
  • Aku: Umm magang apaan?
  • Teman 2: Kamu ga merhatiin? (emote tepuk jidad)
  • Aku: Well, kalian baru bilang 2 hari sebelumnya, mana aku mau tahu
  • Teman 2: Kita bahas minggu lalu…
  • Aku: We did?
  • Aku: Note to self… perhatikan diri sendiri dan/atau orang lain… (nih paradoksnya)
  • Teman 1: You should…
  • Aku: Hang on itu bisa jadi paradoks!

Which goes on ke aku menjelaskan paradoksnya dimana…

Kenapa ini paradoks? For starters aku yang semacam suka ga merhatiin (atau kelewatan satu dua message) di notif menunjukkan bahwa aku ignorant. On the other hand, aku buat note ke diriku sendiri untuk perhatikan diri sendiri.

Which, kalau aku perhatikan diri sendiri… mungkin aja sih, tapi gimana coba cara merhatiin dirimu sendiri, emangnya ga ngeh gitu pas ngelakuin sesuatu. . .

And now, on the other other hand…  Aku yang sempat ignorant berusaha memerhatikan sesuatu, which is possible, tapi di dunia paradoks, orang-orang hanya punya satu sifat. Dari sini paradoksnya muncul…

Aku yang ignorant berusaha memerhatikan orang lain dengan membuat pesan ke diriku sendiri. Tapi aku yangg  memang ignorant ada potensi mengabaikan pesan yang kukirim ke diriku sendiri, alhasil pesannya tidak sampai. Eh, tapi kan aku membuat mental note ke diriku sendiri, masa ga inget sih?

Nah itu paradoksnya, dan regardless pesannya mengenai apapun itu, orang yang ignorant tidak seharusnya bisa pay attention to something. Tapi orang yang ignorant juga harusnya tetep bisa pay attention ke diri sendiri.

So… bingung? Baca satu lagi yang lebih memusingkan… Ini paradoks pertama yang dibuat…

Oh dan gara-gara paradoks itu masalahnya ga keresolve dengan proper…

Zeno oh Zeno.

Paradoks pertama sendiri dibuat oleh philosopher (dan mathematician) bernama Zeno… Dan, jawabannya kurang lebih… tidak ada batasnya, like… at all…

Zeno membuat paradoks pertama dengan iseng… (or ga ada kerjaan… since orang-orang yang banyak tahu paradoks, or mikirin paradoks memang biasanya lagi ga ada kerjaan) Zeno yang iseng-iseng tuh, lagi melihat orang latihan memanah.

Dari orang yang lagi memanah itu, Zeno berusaha mengukurnya secara matematis, dari jarak menembak panah yang (anggap saja) 100 meter itu, Zeno mau mencari titik tengah absolut. Titik tengah absolut ini bermaksud sebagai titik tengah paling tengah, dan setengah tengahnya. Alias, dia mencari titik tengah yang… well… ini paradoks, kujelasin pake matematika aja ya…

Titik tengah dari target dan pemanah yang berjarak 100 meter adalah 50 meter. Titik tengah pertama dengan target berada di jarak 25 meter diantara target. Titik tengah dari titik tengah kedua dan target adalah 12.5 meter. (Maaf kalau bingung…) Jadi, Zeno mau menghitung jumlah titik tengah yang anak panah akan lewati.

Totalnya ada berapa? Well, ini bisa either 1 atau infinite. . . . . . . . Kenapa bisa cuma satu? Titik tengah absolut sendiri memang hanya ada satu, jika titik tengah yang dicari memang benar-benar titik tengah yang paling di tengah.

On the other hand, probabilitas ada infinite center points juga sangat mungkin…

Kalau kita ingin menghitung titik tengah yang paling tengah (bukan yang benar-benar titik tengah) maka gak bakal ketemu-ketemu. Kalau setiap titik tengah bisa branch dua kali, maka benar-benar ga mungkin ada batasnya sih…

Hanya masalah apa yang dicari. Tapi karena kita bicara Matematika yang jawabannya harus solid dan pasti… makanya Zeno baru saja membuat paradoks pertama

In Conclusion

Jadi? kalau pusing… kayanya wajar. Kalau ga pusing, then good job! Paradoks ini memang semacam brain test agar orang-orang yang ga ada kerjaan bisa jadi sedikit produktif dan mikirin solusinya…

Regardless, semoga artikel pendek ini menghibur!