127 Hari Tanpa Smartphone

127 Hari Tanpa Smartphone

The human spirit must prevail over technology. –Albert Einstein

Kalau 129 hari yang lalu saya ditanya apalkah bisa hidup tanpa smartphone selama 100 hari atau bahkan 30 hari atau mungkin 1 hari, kala itu jawaban saya pasti “tidak”. Tapi hari ini ternyata sudah 127 hari terlalui tanpa benda kotak yang luar biasa pintar itu.

Sebelumnya, saya pikir punya smartphone pasti memudahkan hidup, semua serba mudah, dan bisa membuat waktu jadi efektif. Ternyata kenyataannya berbeda ya. Dan baru terasa saat betul-betul si smartphone tidak lagi saya miliki.
Saat ini sudah lebih dari 60 judul buku yang selesai saya baca. Angka yang luarbiasa bila saya melihat 5 tahun terakhir dimana paling 1 buku bisa saya selesaikan dalam 1 bulan, karena si smarthone lebih banyak menyita perhatian saya, Smartphone lah sumber entertainment saya. Akhir-akhir ini, buku lah sumber kesenangan, puas sekali membaca satu demi satu dan selesai dengan cepatnya.

Dulu, mau pergi kemana-mana, pasti saya cek google map dulu, sekarang ya mana bisa. Maka saya pergi saja menikmati rute ala kadarnya berdasarkan intuisi dan itu cukup. Beberapa kali juga saya nyasar, lalu ya lakukan dengan cara lama, tanya sama orang lewat tentunya. Kalau kena macet berarti baru saya pakai telepon-tidak-pintar saya untuk menelepon pakjek dan tanya “ada apa sih ko macet banget”.

Oh iya, saya paham kekhawatiran orang-orang, bahwa tanpa smartphone maka akan susah dihubungi. Sebetulnya tidak juga, saya tetap bisa di sms dan di telepon. Tapi memang sms dan telepon tidak senyaman chat di Whatsapp atau ngobrol di grup WA misalnya. Akhirnya betul-betul kalau dibutuhkan baru seseorang akan mengkontak. Minimalism kan. Sejujurnya itu juga hal pertama yang saya rasakan tanpa smartphone. Dulu kayanya orang-orang itu apa-apa nanya yaa. Apa-apa saya juga ingin memberi komentar dan mendapat komentar, sekarang sangat berkurang.

Ini belum membahas tentang ‘social media’ tanpa smartphone saya ga bisa banyak intip-intip socialmedia. Saya juga ga tau banyak tentang tren terbaru, gosip terbaru, apa yang lagi keren saat ini, dan seterusnya. Saya masih suka intip sih via laptop, tapi yang bisa dilakukan di laptop terbatas ya. Jadi ya keponya juga terbatasi. Seru kok. Buat saya tren mah ngga terlalu pengaruh karena saya masih setia dengan pakai baju merah kemana-mana, modelnya ya ga penting.

Telepon genggam manis saya yang baru warnanya merah, setelah 1 bulan tidak pakai smartphone baru saya membelinya. Jadi 1 bulan pertama saya tidak bawa telepon apa-apa, ternyata nyaman nyaman saja kok. Kadang mikir juga gimana kalau ada “apa-apa” di jalan, ya aklau itu terjadi saya tinggal cari orang terdekat dan pinjem teleponnya. Gitu aja kok repot.

Setelah 1 bulan, saya membeli telepon genggam lagi, tapi saya sudah berniat untuk tidak beli smartphone. Telepon genggambaru saya tidak pintar tapi sebetulnya cukup pintar juga, bisa dipakai telepon, bisa buat kirim dan terima sms (maksimal hanya bisa simpan 20 sms, kalau lebih maka sms lama harus dihapus supaya sms baru bisa masuk), ada kalkulatornya (bermanfaat sekali buat hitung-hitung), ada kamera juga (meski hanya bisa simpan 6 foto saja dan hasil fotonya cukup banget buat layar hp saya), ada bluetooth (saya pernah coba kirim foto dan sukses lho, memang menghabiskan waktu agak lama, tapi bisa), ada games snakes yang lumayan seru (kalau bosan bisa juga main ini). Semua fitur ini cukupan lah buat saya.

Dirumah masih ada laptop, yang seperti sekarang ketika saya mau “kerja” ya masih support. Saya masih mengerjakan jualan pasir online (bisa banget lho, di laptop juga bisa), saya cek laptop biasanya 1 atau 2x sehari, dan itu cukup. Email-email yang masuk juga saya kelola pakai laptop. Diluar itu juga saya masih bantu-bantu “bikin” sekolah. Sekolah Arunika yang dirintis dan diupayakan bersama banyak teman-teman lain, jadi bagian keseharian saya juga.

Dulu smartphone itu saya pegang paling awal ketika bangun tidur (bahkan pada saat mata belum membuka sepenuhnya) dan jadi benda terakhir yang saya pegang sebelum tidur (jadi kalau mau tidur liat smartphone dulu sampai puas baru lepas contact lens dan tidur). Itupun kalau tengah malam kebangun, ya yang dicari pertama tetap smartphone, duh sungguh parah sekali ya saya ini. Sekarang peduli amat si telepon manis yang tidak terlalu pintar itu seringkali saya lupakan, karena ada banyak hal yang lebih penting yang saya kecup sebelum tidur dan saya peluk ketika bangun. -AdminBubi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *